Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rentan, Belanja Pemerintah Masih Dominasi Perekonomian Nasional

📅 Kamis, 06 Agu 2026, 10:19 WIB | Oleh:
Rentan, Belanja Pemerintah Masih Dominasi Perekonomian Nasional Doc: ist
Ket. proyek berjalan

JAKARTA – Kondisi perekonomian nasional masih rentan karena utamanya ditopang belanja pemerintah. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen (yoy) pada triwulan II 2026 merupakan capaian yang positif.

Namun, ia memberikan catatan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Sementara, mesin utama sektor swasta, khususnya manufaktur dan pertambangan, masih menghadapi tekanan.

“Kuartal II ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh government-driven growth. Belanja pemerintah berhasil menjaga momentum ekonomi, tetapi pada saat yang sama kita melihat sektor swasta belum sepenuhnya kembali menjadi motor pertumbuhan,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Data BPS menunjukkan konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen (yoy), menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi pada triwulan II-2026.

“Dalam jangka pendek pemerintah memang dapat menjadi penyangga ekonomi, tetapi dalam jangka panjang pemerintah tidak mungkin menjadi satu-satunya penggerak ekonomi nasional," ujar Fakhrul.

Fakhrul berpendapat, kondisi tersebut tercermin dari kinerja sektor manufaktur yang masih relatif lemah.

Industri pengolahan sebagai kontributor terbesar terhadap  produk domestik bruto (PDB) nasional hanya tumbuh 0,88 persen secara kuartalan, sementara secara tahunan tumbuh 4,52 persen, lebih rendah dibandingkan sektor-sektor jasa yang mengalami akselerasi lebih tinggi.

Padahal manufaktur menyumbang sekitar 18,5 persen terhadap PDB nasional, sehingga perlambatan pada sektor ini sangat mempengaruhi kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut dia, lemahnya manufaktur bukanlah kejutan karena sebelumnya sudah tercermin melalui data Purchasing Magers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang selama beberapa bulan terakhir berada pada fase kontraksi.

"Data PDB hari ini mengonfirmasi sinyal yang sudah lebih dulu diberikan oleh PMI. Dunia usaha manufaktur masih menghadapi tekanan permintaan dan ketidakpastian sehingga ekspansi sektor industri belum mampu kembali menjadi penggerak utama ekonomi," terang Fakhrul.

Lebih lanjut, Fakhrul juga menyoroti kontraksi sektor pertambangan yang justru terjadi ketika harga berbagai komoditas global masih berada pada level yang relatif tinggi.

Data BPS menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian masih mengalami kontraksi 1,64 persen (yoy) pada triwulan II-2026. Ini menunjukkan bahwa persoalan sektor pertambangan saat ini bukan berada pada sisi harga komoditas, melainkan pada sisi produksi dan kepastian usaha.

"Ketika harga komoditas sedang baik tetapi produksi justru belum mampu tumbuh, berarti terdapat hambatan struktural yang harus segera diselesaikan. Salah satu yang paling sering disampaikan pelaku usaha adalah pentingnya kepastian RKAB (rencana kerja dan anggaran belanja) serta kepastian regulasi agar investasi maupun produksi dapat berjalan lebih optimal," jelasnya.

Fakhrul berpendapat, Indonesia berpotensi kehilangan sebagian manfaat dari tingginya harga komoditas global apabila hambatan produksi tersebut tidak segera diatasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Ekonomi
MSCI Ancam Tendang Saham RI...

Besok BABYMONSTER Gelar Konser di Indonesia Arena

52 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Besok BABYMONSTER Gelar Kon...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.