Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PLTA Sulit Dibiayai Jika Proyek Belum Siap

📅 Kamis, 06 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
PLTA Sulit Dibiayai Jika Proyek Belum Siap Doc: antara
Ket. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA)

Jakarta – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menilai kesiapan proyek masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Meski kebutuhan investasi dan dukungan pembiayaan internasional cukup besar, banyak proyek dinilai belum memenuhi standar yang dibutuhkan untuk masuk ke tahap konstruksi.

Dikutip dari Antara, Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas Abdul Malik Sadat mengatakan proyek PLTA memiliki siklus pengembangan yang panjang sehingga aspek teknis, lingkungan, sosial, perizinan, kelembagaan, hingga pembiayaan harus dipersiapkan sejak awal.

"Penting dari awal kita menerapkan HydroSelect dan Hydropower Sustainability Standard agar bankability-nya naik," kata Abdul dalam Indonesia Hydropower Summit 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut dia, HydroSelect merupakan instrumen penyaringan awal untuk mengidentifikasi risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) pada tahap konsep dan prakelayakan proyek. Sementara Hydropower Sustainability Standard (HSS) digunakan untuk menilai keberlanjutan proyek sejak tahap persiapan, konstruksi hingga operasi.

Abdul menilai penerapan kedua instrumen tersebut akan meningkatkan kualitas proyek sehingga lebih mudah memperoleh dukungan dari lembaga pembiayaan, investor, maupun kontraktor internasional.

Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 76 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi, termasuk pengembangan PLTA sebesar 11,7 GW.

Namun, menurut Abdul, tersedianya pendanaan dari lembaga seperti Bank Dunia, JICA, KfW, maupun Asian Development Bank (ADB) belum menjamin proyek dapat berjalan apabila dokumen kesiapan belum lengkap.

Ia mencontohkan proses pengembangan PLTA pumped storage Upper Cisokan yang membutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Lamanya proses tersebut menunjukkan pentingnya sinkronisasi antara aspek rekayasa, regulasi, dan pembiayaan sejak tahap awal.

"Banyak pemilik bahkan perusahaan negara pun belum tentu punya dukungan finansial yang kuat. Karena itu, kami mendorong diversifikasi blended financing," ujarnya.

Selain persoalan pembiayaan, Abdul mengidentifikasi empat hambatan utama pengembangan PLTA, yakni tumpang tindih tata ruang, ketidaksesuaian antara lokasi potensi energi dan pusat kebutuhan listrik, kendala kelembagaan serta regulasi, dan belum tuntasnya dokumen kesiapan proyek.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...

Pemerintah lunasi utang obligasi BLBI

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Pemerintah lunasi utang obl...
Ekonomi
Produksi Animatronik untuk ...

Seniman Den Baguse Ngarso tutup usia

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Rona
Seniman Den Baguse Ngarso t...
Ekonomi
Kementerian ESDM menjamin s...
Ekonomi
Permintaan tabung oksigen d...
Megapolitan
Agro eduwisata tanaman kopi...
Advertisement
Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

23 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.