Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kenali Mastitis, Gangguan Menyusui yang Bisa Dicegah dan Ditangani

📅 Rabu, 05 Agu 2026, 19:05 WIB | Oleh:
Kenali Mastitis, Gangguan Menyusui yang Bisa Dicegah dan Ditangani Doc: RSPI
Ket. Dokter konselor laktasi RS Pondok Indah - Puri Indah, dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC. Ia mengatakan mastitis dapat menyebabkan payudara nyeri, bengkak, dan demam saat menyusui. Kenali gejala, penanganan, serta cara mencegah mastitis.

JAKARTA — Proses menyusui tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Selain puting lecet dan saluran ASI tersumbat, ibu menyusui juga dapat mengalami mastitis, yakni peradangan pada jaringan payudara yang dapat menimbulkan nyeri hingga demam.

Di momentum World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia yang berlangsung 1-7 Agustus 2026, pemahaman mengenai mastitis menjadi penting agar ibu dapat mengenali gejala sejak dini dan memperoleh penanganan yang tepat.

Dokter konselor laktasi RS Pondok Indah - Puri Indah, dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, menjelaskan mastitis cukup sering terjadi pada masa awal menyusui, terutama dalam 6-8 minggu pertama setelah melahirkan.

Mastitis umumnya bermula dari bendungan ASI akibat aliran ASI yang tidak optimal sehingga memicu peradangan jaringan payudara. Pada sebagian kasus, kondisi tersebut dapat disertai infeksi bakteri. Salah satu bakteri yang sering ditemukan adalah Staphylococcus aureus, yang dapat masuk melalui luka atau retakan pada puting.

Mastitis pada ibu menyusui umumnya bersifat akut dan terjadi pada salah satu payudara. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain area payudara yang memerah, membengkak, terasa hangat dan nyeri, serta demam, menggigil, dan tubuh terasa lemas.

Jika tidak ditangani dengan tepat, mastitis dapat berkembang menjadi abses payudara atau penumpukan nanah akibat infeksi bakteri.

ASI dari Payudara yang Mengalami Mastitis Tetap Aman

Salah satu kekhawatiran ibu ketika mengalami mastitis adalah apakah bayi masih boleh menyusu dari payudara yang mengalami peradangan.

Menurut Anastasia, sebagian besar kasus mastitis tidak membuat ASI berbahaya bagi bayi. Karena itu, ibu umumnya tetap dianjurkan menyusui atau mengeluarkan ASI dari payudara yang mengalami mastitis, kecuali dokter memberikan anjuran khusus.

Respons bayi saat menyusu mungkin saja berubah. Sebagian bayi dapat menyusu lebih singkat atau sementara menolak payudara yang mengalami mastitis. Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan rasa ASI yang menjadi sedikit lebih asin akibat peningkatan kadar natrium. Kondisi tersebut biasanya hanya bersifat sementara.

Pada tahap awal, mastitis dapat ditangani dengan sejumlah langkah sederhana di rumah. Ibu dianjurkan tetap menyusui dan tidak menghentikan proses menyusui, menggunakan kompres dingin setelah menyusui untuk membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri, mencukupi kebutuhan cairan serta beristirahat.

“Obat antinyeri atau antiperadangan juga dapat digunakan jika diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan anjuran dokter,” ucapnya.

Kapan Mastitis Perlu Diperiksakan?

Ibu menyusui disarankan segera berkonsultasi dengan dokter konselor laktasi apabila mengalami demam lebih dari 38 derajat Celsius, menggigil, atau nyeri yang semakin berat dalam 24 jam meskipun sudah melakukan penanganan di rumah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...

BNPB: Kualitas Udara Kalbar Berbahaya

1 jam lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BNPB: Kualitas Udara Kalbar...
Nasional
BNPB: OMC Penanganan Karhut...
Luar Negeri
Populasi Dugong Australia T...
Advertisement
Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.