Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kritik pada Euforia Bobibos, Bensin yang Katanya Inovatif

📅 Jumat, 14 Nov 2025, 05:45 WIB | Oleh:
Kritik pada Euforia Bobibos, Bensin yang Katanya Inovatif Doc: Antara
Ket. Ilustrasi jerami, yang dikalim sebagai bahan baku pembuatan Bobibos

Koran Jakarta - BOBIBOS (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!), bahan bakar alternatif yang diklaim ramah lingkungan, baru-baru ini viral. Produk ini diluncurkan secara resmi oleh M. Ikhlas Thamrin dan timnya di Jonggol pada awal November 2025, dengan klaim dapat mengurangi emisi hingga mendekati nol dan memiliki angka oktan (RON) mendekati 98.

Meski mendapat dukungan dari sejumlah tokoh dan dikatakan sebagai hasil riset selama lebih dari 10 tahun, kevalidan klaim-klaim ini dipertanyakan. Berdasarkan penelusuran yang kami lakukan, paling tidak ada 2 Hal yang membuat kami skeptis pada fenomena Bobibos yaitu:

Status Hukum dan Sertifikasi Belum Jelas dan juga Klaim Teknis Tanpa Data Publik

BOBIBOS: Inovasi Ramah Lingkungan yang Viral, Tapi (menurut kami) Keabsahannya Masih Dipertanyakan


1. Status Hukum dan Sertifikasi Belum Jelas
Beredar pemberitaan yang menyatakan BOBIBOS "telah diuji Lemigas". Namun, Kementerian ESDM secara resmi menegaskan bahwa BOBIBOS belum memiliki sertifikat kelayakan dan masih dalam proses uji. Hasil uji ini juga bersifat tertutup dan belum dapat diakses publik.

2. Klaim Teknis Tanpa Data Publik
Klaim tingginya angka oktan (RON ~98) dan emisi rendah disebarkan luas, namun tidak disertai dengan laporan uji laboratorium yang dapat diakses dan diverifikasi oleh pihak independen. Hal ini menimbulkan tanda tanya atas dasar ilmiah klaim tersebut.

Bonus

Peringatan dari Masa Lalu: Jejak 'Kompor Pulsa' yang Gagal
Publik patut waspada karena M. Ikhlas Thamrin (sang penemu Bobibos), memiliki rekam jejak dalam mengembangkan inovasi yang kontroversial, yaitu "kompor pulsa".

Program "kompor pulsa" yang digagas sebelumnya akhirnya gagal di lapangan karena berbagai kendala teknis dan sosial.

Kegagalan "kompor pulsa" ini mengajarkan bahwa sebuah inovasi, meski terdengar baik di atas kertas, harus melalui uji kelayakan yang ketat dan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar dapat sukses diimplementasikan.

Kesimpulan:

BOBIBOS memang menawarkan narasi yang menarik tentang kemandirian energi dan harapan baru. Namun, masyarakat disarankan untuk menyikapi viralitas BOBIBOS dengan kritis mengingat status keabsahannya yang belum dikonfirmasi oleh lembaga resmi, kurangnya transparansi data pendukung klaim-klaim teknisnya, adanya rekam jejak penemunya yang memiliki pengalaman gagal dengan inovasi serupa (energi).


Kesuksesan sebuah inovasi hanya dapat dibuktikan dengan verifikasi ilmiah yang independen, transparansi data, dan keberhasilannya di pasar setelah melalui proses pengujian yang kredibel.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Nasional
IPW Dorong Kapolri Perkuat ...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
# 7
# 7
Rupiah Masih Rentan - 14 Oktober 2026
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.