Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dorong Penguatan Pendidikan untuk Atasi Kemiskinan

📅 Jumat, 14 Nov 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Membahas soal isu teknologi, salah satu tantangannya yaitu mengenai ketimpangan. Menurut Anda langkah yang tepat bagi mengatasi hal ini bagaimana?

Saya mengajak para murid untuk mengatasi ketimpangan yang ada di Indonesia dengan menciptakan produk koding dan kecerdasan buatan yang dapat diakses oleh semua pihak.

Saya berpesan kepada para murid yang akan mengikuti mata pelajaran pilihan koding dan AI agar keterampilan mereka dalam dua bidang tersebut nantinya tidak digunakan untuk memperlebar ketimpangan yang sudah ada, antara kelas ekonomi, atas dengan bawah, antara kota dengan desa, maupun antara Pulau Jawa dengan pulau lainnya.

Sekali lagi koding tidak boleh semakin memperlebar ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin, antara kota dengan desa, antara Jawa dengan luar Jawa. Justru, melalui koding, kita membuat ketimpangan itu semakin menipis, membuat coding for all, AI for all untuk kepentingan semua, terutama kepentingan masyarakat.

Saya berharap kehadiran dua mata pelajaran pilihan itu dapat memacu para murid untuk nantinya menciptakan aplikasi yang dapat menjadi solusi untuk menjawab sederet tantangan, mulai dari isu kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat lokal hingga pelestarian lingkungan.

Saya juga berharap para murid yang nantinya telah memiliki kemampuan koding dan AI dapat membantu petani untuk memprediksi iklim, pilihan tanaman yang sesuai serta mendeteksi pohon yang sakit agar dapat segera diobati.

Tak hanya itu, saya pun berharap para murid nantinya dapat memanfaatkan bidang koding dan AI untuk mengkonversi teks ke dalam suara dan sebaliknya, sehingga memudahkan penyandang disabilitas tunanetra dalam membaca serta memproduksi tulisan.

Kemenko PMK beberapa waktu lalu memperkenalkan Gerakan KITATANGGUH sebagai upaya kolektif untuk kurangi risiko bencana. Apa latar belakang dicetuskannya inisiatif ini?

Saya kira kita semua tahu betapa besar kerugian yang harus ditanggung oleh pemerintah, oleh masyarakat yang menjadi korban, dan juga oleh publik secara keseluruhan akibat bencana. Ini harus kita selesaikan bersama dan kita semua harus benar-benar tangguh.

Oleh karena itu penting membangun budaya tangguh di masyarakat melalui kesadaran kolektif untuk melakukan langkah pencegahan. Budaya tangguh di tengah masyarakat harus terus diperkuat untuk mengurangi risiko bencana.

20251113230546_Capture.JPG

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
  • Kartu Transportasi Bersubsidi Bocor, DPRD DKI Minta Data Diperketat
    Preview komentar:
    Membaca sorotan DPRD DKI mengenai kebocoran kartu transportasi ...
  • XLSMART Berhasil Raih Kinerja Solid Semester I 2026.
    Preview komentar:
    Keberhasilan XLSMART dalam memperluas cakupan 5G hingga 52 ...
Ekonomi
Aspal Impor Ditekan, Indust...
Ekonomi
Manufaktur Diperkuat, Keyak...
Daerah
Mahasiswa ITS Rancang Sanit...
Mengenal Arti Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala Hari Rabu Terakhir Bulan Safar

Mengenal Arti Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala Hari Rabu Terakhir Bulan Safar

12 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.