Dorong Penguatan Pendidikan untuk Atasi Kemiskinan
📅 Jumat, 14 Nov 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiMengenai penanganan penyakit TBC, langkah apa yang diambil oleh kementerian Anda?
Kasus TBC di Indonesia sudah memasuki tahap darurat sehingga penanganannya harus dilakukan dengan keseriusan yang setara dengan penanganan pandemi Covid-19.
Ini masalah serius. Karena itu, penanganan TBC harus kita arus-utamakan agar terbentuk critical mass dan gerakan sosial yang kuat, mulai dari masyarakat hingga kepemimpinan nasional.
TBC sendiri merupakan masalah bangsa yang harus ditangani secara menyeluruh oleh semua pihak. Kematian akibat TBC secara global mencapai 1 miliar orang dalam 200 tahun atau rata-rata 5 juta per tahun yang bahkan melampaui kematian akibat Covid-19 dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pentingnya langkah nyata, mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kampanye bahaya TBC dengan memanfaatkan pop culture, memperluas kewajiban skrining untuk memperoleh data yang akurat sekaligus mencegah penularan, hingga memastikan pengobatan berjalan tuntas.
Selain itu promosi kesehatan dan perubahan perilaku merupakan kunci utama agar TBC tidak terus menular dan merenggut banyak nyawa.
Kami ingin isu TBC ini benar-benar menjadi arus utama. Harus ada gerakan masif, bukan hanya di level teknis, tetapi juga kelembagaan, dan sampai ke masyarakat. Semua pihak perlu bersinergi agar Indonesia bisa mengulang keberhasilan seperti dalam penanganan Covid-19.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain dalam isu stunting dan tuberkulosis, apa harapan Anda terkait pemanfaatan “AI”?
Saya ingin kecerdasan buatan bisa merawat lebih banyak budaya dari yang saat ini terserap. Ayo bangun AI yang berbicara semua bahasa, merawat semua cerita, dan melayani semua orang, mari membuat kerangka tata kelola yang memprioritaskan martabat manusia dan keragaman budaya.
Saat ini teknologi sangat berpengaruh terhadap kebudayaan dan masa depannya. Perkembangan pesat dari teknologi digital dan kecerdasan artifisial telah mengubah kehidupan manusia, mengubah bagaimana pengetahuan dibentuk, dilestarikan, dan disebarkan.
Namun sayangnya, konsentrasi kekuatan digital saat ini dinilai belum setara, yang terlayani hanya dalam segelintir bahasa dan tradisi budaya, sehingga menyebabkan krisis dari representasi budaya.
Data menunjukkan lebih dari 90 persen konten digital dibuat hanya dalam 12 bahasa, ini menyebabkan ribuan bahasa dan tradisi lisan lainnya terancam punah. Hal ini bukan karena nilai dari budaya tersebut yang kurang, tetapi karena algoritma gagal untuk menemukan mereka.
Jika ingin menjawab tantangan, kecerdasan buatan harus berpacu pada empat pilar utama; yang pertama dukungan komunitas dalam melestarikan tradisi budaya. Kedua, pengembangan AI yang inklusif, kita harus berinvestasi secara global dalam sistem multilingual AI yang menunjukkan spektrum kehidupan manusia, dipandu dengan penilaian dampak yang menghargai perbedaan dan mengurangi bias. Ketiga, edukasi literasi digital yang harus berakar pada nilai budaya, dan keempat, tata kelola yang berpusat pada manusia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!