BRIN Kembangkan Teknologi Pemantauan Warna Laut untuk Informasi Geospasial
📅 Minggu, 19 Okt 2025, 14:45 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: KKP
JAKARTA - Kepala Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN, M Rokhis Khomarudin, menyatakan ocean color science memberikan informasi geospasial penting. Data ini meliputi konsentrasi klorofil, kualitas air, produktivitas laut, serta informasi strategis bagi penelitian dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.
“Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar, kemampuan untuk memproses dan menginterpretasikan data ocean color. Ini dilakukan melalui geoinformatika sangatlah penting dan mendukung ketahanan pesisir, keberlanjutan kelautan, dan ekonomi biru,” kata Rokhis dalam Webinar BRIGHTS bertema “Ocean Color Science for Utilization and Decision-Making”, Kamis (9/10) lalu.
Menurut dia, ocean color science mencerminkan esensi geoinformatika yang terintegrasi dengan berbagai teknologi. Para periset memadukan remote sensing, geographic information system (GIS), modelling, dan data analytics untuk memahami serta mengelola lingkungan kelautan.
Rokhis berharap kolaborasi dan inovasi antarlembaga dapat meningkatkan penerapan geoinformatika dalam ilmu kelautan. Tujuannya agar manfaat laut dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pemangku kebijakan.
Periset Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Gathot Winarso, menjelaskan faktor utama yang memengaruhi warna air laut adalah penyerapan cahaya. Air laut menyerap warna merah dari spektrum cahaya, sementara warna biru lebih banyak dipantulkan.
“Seperti filter, hal ini meninggalkan warna-warna di bagian biru spektrum cahaya agar kita dapat melihatnya. Lautan juga dapat berubah menjadi hijau, merah, atau rona lainnya saat cahaya memantul dari sedimen dalam air dan partikel yang mengapung di air itu sendiri,” ungkap dia.
Ia juga menjelaskan prinsip warna laut mencakup interaksi elektromagnetik dan perkembangan teknologi sensor. Dari coastal zone color scanner (CZCS) di satelit Nimbus hingga sistem modern yang menekankan algoritma spesifik untuk wilayah tropis.
Sementara, Kie Trung Hieu dari University of Singapore memaparkan lompatan teknologi dalam pemanfaatan ‘Unmanned Aerial Vehicle’ (UAV). Teknologi ini memungkinkan pencitraan dengan resolusi sub-meter dan gangguan atmosfer minimal.
Teknik yang digunakan mencakup mosaik berbasis ‘Global Positioning System’ (GPS) dan pembelajaran mendalam untuk pemrosesan citra. Pendekatan ini melengkapi pemantauan satelit tradisional dengan menawarkan alat validasi potensial melalui penginderaan UAV beresolusi tinggi.
Dia berharap integrasi teknologi UAV dengan sistem satelit dapat meningkatkan akurasi ocean color science. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat riset perairan Asia Tenggara di masa mendatang. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!