Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Batik Complongan Masih Hidup di Tangan Toharoh, Perempuan yang Menolak Uzur

📅 Senin, 22 Sep 2025, 11:47 WIB | Oleh: Tim Penulis

Pekerjaan itu memang menuntut kesabaran tinggi. Lubang-lubang kecil harus dibuat teratur, rapi dan sesuai pola yang sudah ditutup lilin.

Sekilas tampak sepele, tapi di situlah letak keistimewaan dari wastra asli Indramayu bernama batik tulis complongan.

Saking dibutuhkannya konsentrasi yang begitu tinggi, Ratinah hanya dapat menuntaskan proses ini dalam sehari untuk sehelai kain.

Teknik complongan tetap mengikuti alur membatik pada umumnya. Kain diberi motif, dilapisi lilin, kemudian diwarnai.

Bedanya, terdapat lubang halus seperti barisan semut yang menjadi bagian integral dari corak wastra tersebut.

Dilihat dari tingkat kerumitan itu, batik complongan disebut sebagai salah satu kekayaan budaya paling bernilai di Indramayu.

Akar batik complongan

Batik tulis ini menjadi penanda kuat identitas Indramayu. Complongan berasal dari kata complong dalam bahasa lokal setempat yang berarti melubangi.

Tekniknya dilakukan memakai alat berisi 20-30 jarum berdiameter setengah milimeter, yang ditusukkan membentuk deretan titik-titik kecil sehingga mempercantik motif setelah melalui proses pewarnaan.

Tidak semua bagian kain dilubangi. Hanya area tertentu yang sudah ditutup lilin, disebut tembokan, yang ditembus jarum.

“Jadi, batik itu dilubangi supaya warnanya masuk dan menyerap. Itu salah satu keistimewaan batik asli daerah sini,” tutur Indra Susilo, seorang pengusaha sekaligus pegiat batik complongan Indramayu saat berbincang dengan ANTARA.

Ia mengisahkan jejak complongan dapat ditelusuri jauh ke belakang, sekitar periode 1800-an. Pada masa itu telah ditemukan kain panjang yang menggunakan teknik pelubangan ini.

Ada cerita rakyat yang menyebut awal mula complongan terjadi karena ketidaksengajaan. Kain batik yang ditumpuk lama menyebabkan lilin terkelupas, kemudian membentuk titik-titik. Hasil itu justru dianggap indah, lalu dijadikan teknik tersendiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.