Pedro, 'Jenglot' dari Wyoming Amerika Serikat
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 04:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: wyohistory.org
Jakarta - Pada 1934, dua pencari emas, Cecil Mayne dan Frank Carr, meledakkan tebing di Pegunungan San Pedro, Wyoming. Di celah gua yang terbuka, mereka menemukan sesosok mumi manusia berukuran sangat kecil, duduk bersila dengan tinggi sekitar 43 sentimeter jika berdiri. Makhluk yang dijuluki "Pedro" ini memiliki kulit kecokelatan, rambut abu-abu, deretan gigi taring runcing, serta kepala pipih dengan luka di ubun-ubun.
Penemuan ini langsung mengguncang penduduk setempat karena menyentuh legenda suku Shoshone dan Arapaho tentang Nimerigar yaitu tentang ras manusia kerdil agresif yang tinggal di Pegunungan Rocky. Konon mereka berburu dengan anak panah beracun dan memiliki ritual mengerikan: membunuh anggota suku yang sakit parah dengan pukulan di kepala. Tengkorak Pedro yang remuk dianggap sebagian orang sebagai bukti ritual tersebut.
Pedro berpindah tangan berkali-kali dari toko obat di Meeteetse hingga showroom mobil bekas sebelum akhirnya dipinjamkan ke seorang kurator di New York pada 1950 dan lenyap tanpa jejak. Sampai sekarang, mumi aslinya tak pernah ditemukan.
Sains mencoba menjawab misteri ini. Pada 1940-an dan 1950-an, antropolog Harry Shapiro dan Paul Martin melakukan pemeriksaan sinar-X dan menyimpulkan bahwa Pedro adalah bayi manusia dengan kelainan langka bernama anensefali, yaitu kegagalan perkembangan otak dan tengkorak. Deformitas inilah yang membuatnya tampak seperti "manusia miniatur dewasa." Pengujian modern pada mumi serupa, "Chiquita," yang ditemukan di wilayah yang sama pada 1929, mengonfirmasi bahwa ia adalah bayi perempuan penderita anensefali dari suku asli Amerika, berasal dari sekitar tahun 1700 M.
Namun ketiadaan Pedro sendiri membuat perdebatan tak pernah usai. Tanpa DNA modern, teori alternatif terus berkembang ada yang menganggapnya alien, spesies hominid tak dikenal, atau bukti nyata legenda Nimerigar. Hingga kini, suku Crow dan Shoshone masih meyakini keberadaan "orang-orang kecil" sebagai entitas spiritual, dan para pendaki kerap meninggalkan sesaji di Pegunungan San Pedro sebagai penghormatan.
Fenomena Jenglot di Indonesia
Penemuan Pedro di Wyoming memiliki kemiripan dengan fenomena Jenglot di Indonesia, sosok mumi kecil yang juga diselimuti misteri antara fakta ilmiah dan kepercayaan mistis. Keduanya adalah cermin dari bagaimana budaya yang berbeda memaknai benda aneh yang sama.
Di Indonesia, Jenglot pertama kali merebut perhatian publik pada 1997, meski beberapa pihak menyebut kemunculannya sudah ada sejak 1972 . Sosoknya juga berukuran sangat kecil, sekitar 10-20 sentimeter, dengan penampilan mengerikan: wajah seperti tengkorak, rambut panjang yang konon tak pernah berhenti tumbuh, taring tajam, dan kuku melengkung. Sama seperti Pedro, Jenglot ditemukan di tempat-tempat tak terduga, di bawah tanah, di pohon besar, atau di atap rumah .
Perbedaan utama terletak pada kepercayaan seputar keberadaannya. Jika Pedro dikaitkan dengan legenda suku Nimerigar, Jenglot dalam budaya Jawa diyakini sebagai jelmaan petapa yang gagal mencapai keabadian melalui ilmu hitam. Tubuhnya "ditolak bumi" sehingga tak membusuk, melainkan mengering dan mengecil. Yang lebih menakutkan, Jenglot disebut hidup dan harus diberi minum darah, jika tidak, pemiliknya akan ditimpa musibah .
Ironisnya, sains memberikan jawaban serupa untuk kedua fenomena ini. Pemeriksaan sinar-X Pedro menunjukkan ia adalah bayi dengan kelainan anensefali. Sementara itu, tim forensik RSCM yang meneliti Jenglot pada 1997 justru menemukan sesuatu yang paradoks: tidak ada struktur tulang di dalam tubuhnya, namun DNA dari sampel kulitnya menunjukkan kemiripan dengan DNA manusia. Dr. Djaja Surya Atmaja dari UI bahkan mengaku kaget dengan hasil ini, meski ia mewanti-wanti kemungkinan kontaminasi dari darah yang biasa dioleskan ke tubuh Jenglot.
Hingga kini baik Pedro maupun Jenglot tetap berada di zona abu-abu, antara artefak, hoaks, dan makhluk gaib. Sains memberi penjelasan, tapi tanpa bukti fisik yang utuh, legenda selalu lebih kuat. Mungkin itulah yang membuat kedua kisah ini terus hidup: karena orang-orang lebih memilih misteri daripada jawaban yang ilmiah dan kurang menarik sebagai bahan pembicaraan.
Bahan bacaan:
- https://en.wikipedia.org/wiki/San_Pedro_Mountains_mummy
- https://id.wikipedia.org/wiki/Jenglot
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!