Batik Complongan Masih Hidup di Tangan Toharoh, Perempuan yang Menolak Uzur
📅 Senin, 22 Sep 2025, 11:47 WIB | Oleh: Tim PenulisSetelah kemerdekaan, tepatnya pada 1948, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dibentuk. Indramayu menjadi anggota, namun aktivitas koperasi perlahan menurun.
Wastra khas Indramayu itu pun ikut meredup, digeser oleh batik lain yang lebih komersial. Kebangkitan baru muncul menjelang 2019, ketika persiapan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dimulai.
Pada 2022, complongan resmi terdaftar dalam IG. Sertifikat itu menjadi pengakuan resmi atas kualitas, karakteristik dan reputasi batik tersebut yang hanya ada di Indramayu.
Sejak itu permintaan meningkat tajam. Pada Gelaran Batik Nasional (GBN) 2023, Indra membawa 40-50 helai complongan. Semua habis terjual bahkan sebelum pameran berakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Stok ratusan helai yang disiapkan sebelumnya pun ludes terjual. “Saat itu puncak-puncaknya penjualan complongan,” kenangnya.
Warna dari alam
Kepada ANTARA, Indra melanjutkan cerita, seraya mengingat kembali momen saat dirinya memantapkan niat untuk terjun ke industri batik.
Sejak kecil dirinya akrab dengan bau malam panas dan warna-warna yang melekat di kain. Buyut, kakek, hingga orang tuanya adalah perajin. Begitu pula beberapa tetangganya.
Saat banyak perajin memilih berhenti, Indra justru bertahan. Ia yakin complongan punya nilai yang tidak bisa digantikan batik printing. Langkahnya pun semakin kuat untuk mendirikan usaha sendiri.
Kendati tak punya bakat untuk menggambar pola, ia tetap teguh pada pendiriannya dan memilih bidang lain dalam industri ini, yakni pewarnaan.
Sejak lulus kuliah pada 2007, Indra fokus pada batik dengan pewarna alam. Ia sempat belajar di Yogyakarta, lalu menerapkannya di Indramayu.
Di Indramayu, termasuk di desanya, kaya sumber pewarna. Daun dan kulit mangga misalnya, dapat menghasilkan warna hijau hingga kuning kecokelatan.
Kemudian ada kulit kayu mahoni yang memberi rona cokelat kemerahan. Sedangkan tanaman indigofera menghasilkan biru pekat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!