Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengapa Kemarau Telat Datang Tapi Fenomena Bediding Tetap Terasa?

📅 Senin, 28 Jul 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Namun, para ilmuwan dan peneliti perlu terus melakukan pemantauan dan analisis data iklim lebih dalam untuk menyatakan apakah anomali saat ini adalah dampak langsung dari perubahan iklim atau masih dalam rentang variabilitas iklim alami yang diperburuk oleh pemanasan global.

Selain datang terlambat, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan berlangsung lebih singkat dari biasanya, terutama akibat curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata normal dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan peta analisis curah hujan BMKG, sebagian besar wilayah di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara masih akan diguyur hujan cukup lebat—bahkan mencapai lebih dari 100 mm per hari, di atas rata-rata normal.

Mengapa ‘bediding’ khas kemarau tetap terasa?

Di tengah kemarau yang tertunda dan curah hujan yang masih tinggi di sebagian wilayah, masyarakat tetap merasakan fenomena bediding.

Fenomena tahunan ini umumnya terjadi pada musim kemarau yang biasanya berlangsung di periode Juni-September, terutama pada di wilayah selatan katulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada periode ini, angin Monsun Australia aktif membawa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, sehingga suhu udara di malam dan pagi hari menjadi lebih rendah.

Selain itu, pada musim kemarau, langit biasanya lebih cerah dan nyaris tanpa awan. Akibatnya, panas matahari yang diserap siang hari dilepaskan kembali oleh permukaan bumi saat malam melalui radiasi. Karena tidak ada awan yang menahan panas itu, suhu pun turun drastis.

Kondisi ini makin terasa karena rendahnya kelembapan dan sedikitnya uap air di udara, membuat malam hari terasa lebih menusuk dinginnya.

Munculnya bediding meskipun musim kemarau belum sepenuhnya berlangsung adalah hal wajar. Sebab, ini tetap merupakan bagian dari dinamika peralihan menuju musim kemarau yang biasa terjadi, di mana kelembapan tanah mulai menurun secara bertahap sebelum musim kemarau benar-benar berlangsung secara penuh. Jadi, masyarakat tak perlu cemas berlebihan.

Cuaca ekstrem dan imbauan waspada

Perubahan cuaca dari basah ke dingin dan relatif kering tahun ini memang berlangsung dalam waktu singkat. Tak heran jika banyak yang menyebutnya ‘cuaca ekstrem’.

Analisis BMKG memperkirakan kondisi curah hujan pada Juli 2025 secara umum berada dalam kategori rendah (<50 mm/dasarian), kecuali di sebagian wilayah di NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Tiga Perusahaan Pencemar Su...
Luar Negeri
Kerugian Penipuan Siber Tem...
Nasional
Swasembada Susu Butuh Regul...
Luar Negeri
PBB Desak Kelompok Houthi H...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.