Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kabut Asap Tak Kunjung Berakhir, Karhutla Kalsel Berlangsung 3 Bulan, Udara Segar Jadi Kerinduan.

3 Senin, 21 Sep 2026, 12:30 WIB | Oleh:
Kabut Asap Tak Kunjung Berakhir, Karhutla Kalsel Berlangsung 3 Bulan, Udara Segar Jadi Kerinduan. Kabut Asap Tak Kunjung Berakhir, Karhutla Kalsel Berlangsung 3 Bulan, Udara Segar Jadi Kerinduan. Doc: Antara Foto
Ket. Gedung terminal Bandara Internasional Syamsudin Noor yang tak terlihat dari Jalan Ahmad Yani Km 27 Banjarbaru ketika diselimuti kabut asap tebal di pagi hari, Minggu (20/9).

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan telah berlangsung selama tiga bulan terakhir, terhitung sejak Juli hingga September ini.

Kota Banjarbaru menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah karena dikepung karhutla dari segala sisi. Di kota ini, karhutla melanda Kecamatan Landasan Ulin, yang mencakup ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor di Kelurahan Syamsudin Noor dan Kelurahan Guntung Payung, serta Kecamatan Liang Anggang, mulai dari kawasan Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan hingga hutan lindung Liang Anggang.

Kondisi tersebut diperparah oleh asap kiriman dari daerah tetangga yang berbatasan langsung dengan Banjarbaru, seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala.

Hingga Minggu (20/9/2026), kualitas udara di ibu kota Kalimantan Selatan tersebut belum juga membaik dan justru makin memburuk. Warga terpaksa menghirup udara tidak sehat sepanjang hari.

20260921122932_IMG_20260920_103040.jpg

Masyarakat berolahraga di tengah kabut asap di area perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru

Kondisi terparah terjadi sejak menjelang subuh hingga pagi hari. Udara baru sedikit membaik pada siang hari saat terik matahari mulai mengurai pekatnya asap. Situasi berulang ini membuat warga terus bergelut dengan ancaman asap karhutla yang tak kunjung usai.

Aktivitas luar ruangan pun kian berisiko memicu gangguan kesehatan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga iritasi mata.

Fitrianyah (31), warga Jalan Kasturi 2, Kelurahan Syamsudin Noor, mengaku terpaksa menghentikan kebiasaan joging pagi.

"Sudah dua bulan ini, sejak Agustus, saya tidak joging lagi karena asap makin parah setiap pagi," ujarnya.

Ia menilai berolahraga di tengah kualitas udara buruk justru berbahaya. Niat ingin sehat malah berisiko sakit akibat menghirup udara yang terkontaminasi asap sisa pembakaran lahan.

Hal serupa dirasakan Nur Laila (41), warga Jalan Kurnia, Kelurahan Landasan Ulin Utara. Ia memilih berhenti bersepeda pada akhir pekan sejak kabut asap melanda. Nur berharap kualitas udara segera pulih agar masyarakat dapat beraktivitas di luar rumah tanpa dibayangi rasa cemas.

Udara segar kini menjadi hal yang sangat dirindukan oleh masyarakat di "Kota Idaman" yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) akhir 2024 dihuni oleh 285.546 jiwa ini.

Penerbangan ​​​​​Terdampak

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.