Mengapa Kemarau Telat Datang Tapi Fenomena Bediding Tetap Terasa?
📅 Senin, 28 Jul 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Agita Vivi Wijayanti, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Nurdeka Hidayanto, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Dalam kalender musim, normalnya Juli ini sudah memasuki musim kemarau 2025. Namun, hujan masih mengguyur di sebagian wilayah Indonesia, tak terkecuali Jabodetabek.
Menariknya, meski kemarau telat datang, masyarakat di bagian Selatan Indonesia tetap merasakan fenomena bediding. Berasal dari istilah bahasa Jawa, bediding adalah kondisi suhu lebih dingin di malam hingga dini hari sampai bisa membuat orang menggigil, ciri khas musim kemarau.
Lantas, apa penyebab musim kemarau tak kunjung datang, sementara gejala seperti ‘bediding’ tetap terasa?
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemarau datang terlambat dan lebih singkat
Ada banyak faktor penyebab musim kemarau tak kunjung datang. Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor atmosfer dan laut yang membuat udara tetap lembap dan memicu hujan, seperti:
-
Melemahnya angin Monsun Australia, yang biasanya membawa udara kering dari benua Australia ke Indonesia dan memicu musim kemarau.
Sebaiknya Anda baca juga:
-
Aktivitas atmosfer, seperti gelombang ekuator (Kelvin dan Rossby Equator) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sering muncul di Indonesia karena posisi negara kita yang berada di wilayah tropis. Gelombang tersebut membawa massa udara basah dan membentuk awan hujan.
-
Anomali arah angin, yaitu munculnya angin baratan (dari Samudra Hindia ke Indonesia bagian barat) yang menggantikan angin timuran—yakni angin yang bertiup dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang biasa membawa udara kering.
Padahal normalnya, musim kemarau di Indonesia ditandai oleh dominasi angin timuran—yakni angin dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang membawa udara kering dan menyebabkan berkurangnya curah hujan.
Karena kondisi inilah, kendati El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)—interaksi antara atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik serta Hindia yang memengaruhi pola curah hujan—berada dalam fase netral, curah hujan masih terus terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Mei dan kemungkinan berlanjut hingga Oktober 2025.
Lantas, apakah semua anomali cuaca ini berkaitan dengan perubahan iklim?
Banyak indikasi menunjukkan korelasi kuat semua anomali cuaca (seperti kemunduran musim kemarau, peningkatan suhu muka laut, serta anomali arah angin) berkaitan dengan perubahan iklim.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!