Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dari Lahan Tidur Jadi Kolam Produktif, DIY Genjot Budi Daya Lele dan Nila

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 17:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dari Lahan Tidur Jadi Kolam Produktif, DIY Genjot Budi Daya Lele dan Nila Doc: ANTARA/ HO-Humas Pemkab Bantul
Ket. Ilustrasi - Budi daya ikan lele dengan sistem kolam padat tebar tinggi di Poncosari, Srandakan, Bantul, DIY.

YOGYAKARTA – Pemanfaatan lahan kelurahan untuk budi daya ikan dapat menjadi langkah produktif mengubah aset yang selama ini kurang optimal menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan masyarakat.

Jika dikelola secara berkelanjutan dan melibatkan warga, kegiatan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong ekonomi berbasis komunitas.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengoptimalkan lahan atau tanah milik kalurahan (wilayah setingkat desa di kabupaten) di provinsi tersebut untuk mengembangkan budi daya ikan lele dan nila.

Kepala DKP DIY Hery Sulistio Hermawan di Yogyakarta, Minggu (9/7), mengatakan pengembangan budi daya lele dan nila tersebut direalisasikan melalui Program Budi Daya Ikan Tematik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di desa-desa.

"Nah, tujuannya untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di kalurahan, sehingga nanti kolam-kolam menggunakan tanah kas kalurahan, kemudian rencana yang dikembangkan adalah ikan lele dan nila," katanya.

Menurut dia, pemilihan ikan lele dan nila tersebut karena menjadi komoditas hasil perikanan budi daya yang memiliki pasar terbuka luas di DIY, bahkan nantinya dapat mendukung menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

"Karena lele ini pasarnya terbuka luas termasuk rantai pasoknya untuk mendukung Program MBG di SPPG, jadi arahnya seperti itu. Harapannya mungkin di awal September mulai dibangun," katanya.

Menurut dia, perikanan tematik untuk budi daya ikan lele dan nila nantinya dengan memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas, dan pemanfaatan air yang bisa disirkulasi untuk keberlanjutan usaha.

"Ini kan menghadapi tantangan kita saat ini, lahan yang semakin terbatas, sumber daya air juga terbatas, sehingga air ini tidak menjadi boros, tidak terus terbuang percuma, tapi kan bisa diputar," katanya.

Dia mengatakan di wilayah DIY program pengembangan budi daya dari KKP tersebut menyasar ke 64 kelompok budi daya perikanan, dengan pembangunan fisik sarana mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

"Kalau untuk sarana budi daya, baik benih, pakan itu langsung dari Kementerian Kelautan Perikanan. Kalau kami kan nanti pendampingan di lapangan, bagaimana masyarakat itu bisa siap untuk mengoptimalkan dan pemeliharaan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Boleh Juga Jalan-jalan ke K...
Daerah
3.000 Agen Perlinsos Siap B...
Daerah
Gempa Bumi M6.1 Guncang Sum...
Advertisement
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.