Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mbok Yem dan Pneumonia: Ketika Paru-Paru Tua Tak Lagi Kuat Menahan Dingin Lawu

📅 Rabu, 23 Apr 2025, 21:25 WIB | Oleh:
Mbok Yem dan Pneumonia: Ketika Paru-Paru Tua Tak Lagi Kuat Menahan Dingin Lawu Doc: Dok. Istimewa
Ket. Ket. Sosok ibu bagi banyak pendaki ini dikenal ramah, dan tak pernah sekalipun meninggalkan posnya di puncak meski diterpa cuaca ekstrem. Dia juga sempat menolong wisatawan yang kelelahan, tersesat, atau sakit di jalur Lawu.

Banyak orang mengenang Mbok Yem sebagai perempuan tangguh yang puluhan tahun menetap di ketinggian 3.000 meter di Gunung Lawu. Namun tak banyak yang tahu bahwa menjelang akhir hayatnya, Mbok Yem berjuang melawan penyakit bernama pneumonia yaitu sebuah infeksi serius yang menyerang paru-paru.

Pneumonia adalah peradangan pada jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Gejalanya bisa ringan hingga berat, tergantung kondisi tubuh seseorang. Dalam kasus Mbok Yem, usianya yang telah memasuki 82 tahun membuat daya tahan tubuhnya menurun, sehingga membuatnya lebih rentan.

Menurut keterangan keluarga, Mbok Yem awalnya hanya mengeluh sakit gigi dan kehilangan nafsu makan. Namun kondisi itu berkembang menjadi sesak napas yang semakin berat. Setelah dibawa ke RSU Aisyiyah Ponorogo, dokter menemukan adanya cairan di paru-parunya—ciri khas pneumonia yang cukup parah.

Pneumonia menyebabkan paru-paru kesulitan menyerap oksigen. Bagi seseorang yang telah bertahun-tahun tinggal di lingkungan dengan suhu dingin dan tipisnya kadar oksigen seperti Gunung Lawu, risiko penyakit ini memang lebih tinggi, apalagi jika tidak ditangani sejak awal.

Meski sempat membaik usai menjalani perawatan, kondisi Mbok Yem terus naik turun. Pada akhirnya, pada 23 April 2025 siang, beliau menghembuskan napas terakhir di rumahnya, dikelilingi keluarga.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa bahkan sosok sekuat Mbok Yem pun tetap manusia. Ia mengajarkan bahwa keteguhan bukan berarti tak bisa rapuh. Dan mungkin, seperti gunung yang tak pernah meminta untuk didaki, Mbok Yem pun tak pernah meminta untuk dikenang—tapi ia akan tetap tinggal di hati para pendaki.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Kenaikan biaya harga pakan ayam

59 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Kenaikan biaya harga pakan ...

Pameran Indofest 2026

1 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pameran Indofest 2026

Pendaftaran SMPB di Jateng

1 jam lalu | Wahyu AP

Nasional
Pendaftaran SMPB di Jateng

Potensi komoditas kakao Jembrana

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Potensi komoditas kakao Jem...
Daerah
Anak harimau sumatra di TSI...

Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta

2 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta
Nasional
Sidang vonis Mantan Wamenna...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.