Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertumbuhan Ekonomi Q1-2025 Diperkirakan Kurang Dari 5 Persen

📅 Rabu, 05 Mar 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pertumbuhan Ekonomi Q1-2025 Diperkirakan Kurang Dari 5 Persen Doc: antara
Ket. Salah satu faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi adalah menurunnya daya beli masyarakat.

JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada triwulan atau kuartal-1 (Q1) 2025 diperkirakan akan tumbuh di bawah 5 persen atau lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year) yang tumbuh 5,11 persen.

Lebih rendahnya perkiraan pertumbuhan itu karena menurunnya daya beli masyarakat setelah stimulus ekonomi berkurang khususnya bantuan sosial (Bansos). Bansos pada awal tahun lalu masih banyak yang disalurkan terutama sebelum Pilpres dan Pilkada serentak.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan bahwa sejak berakhirnya berbagai insentif pemerintah pada 2024, masyarakat mengalami penyesuaian terhadap kondisi ekonomi yang lebih ketat. Dampaknya, belanja rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi.

“Salah satu faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi adalah menurunnya daya beli masyarakat. Tahun lalu, pemerintah masih memberikan berbagai stimulus seperti subsidi energi, bantuan sosial, dan insentif pajak. Namun, di awal 2025, insentif tersebut berkurang signifikan, sehingga konsumsi masyarakat melemah,” kata Aditya, Selasa (4/3).

Menurutnya, konsumsi rumah tangga yang biasanya menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kini mulai melambat. Sektor ritel dan industri makanan-minuman, yang menjadi indikator utama daya beli, juga menunjukkan perlambatan.

Selain berkurangnya stimulus, faktor lain yang memperlemah daya beli adalah deflasi yang terjadi baru-baru ini serta kebijakan moneter yang cenderung ketat.

“Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,09 persen secara tahunan pada Februari 2025, pertama kalinya sejak Maret 2000. Meskipun deflasi ini sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi pelanggan PLN dengan daya 2.200 volt ampere (VA) atau lebih rendah, hal ini juga mencerminkan adanya tekanan pada permintaan domestik,” jelas Aditya.

Meskipun Pemerintah mendorong investasi dan ekspor sebagai penggerak ekonomi, Aditya menilai bahwa kedua sektor itu belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan konsumsi.

“Investasi masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi regulasi dan kepastian hukum. Sementara itu, ekspor juga masih dibayangi oleh perlambatan ekonomi global dan harga komoditas yang fluktuatif,” paparnya.

Pemerintah kata Aditya perlu mencari strategi baru untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah kebijakan fiskal yang lebih fleksibel, seperti insentif pajak bagi sektor usaha tertentu atau stimulus terbatas untuk kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap pelemahan daya beli.

“Jika tidak ada langkah antisipatif, pertumbuhan ekonomi bisa terus melambat di kuartal-kuartal berikutnya. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebijakan moneter dan fiskal agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Aditya.

Diminta terpisah, Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan, melihat Januari hingga Februari memang pertumbuhan relatif lesu, daya beli masyarakat tertekan terutama dengan kenaikan harga bahan pokok dan gas yang sempat langka.

Perhatian Utama

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri, mengatakan, tekanan pada konsumsi rumah tangga harus menjadi perhatian utama, mengingat sektor itu menyumbang lebih dari 55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Sepanjang Hari Jumat Ini Cu...

Malam Puncak Hut Jakarta Tersedia 21 Tempat Parkir

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Malam Puncak Hut Jakarta Te...
Luar Negeri
Sedikitnya 188 Orang Tewas ...
Luar Negeri
Sekjen PBB Sangat Sedih ata...

Perhatikan 12 Rute Alternatif, Sambut Puncak HUT Jakarta

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perhatikan 12 Rute Alternat...
Rona
Limp Bizkit Bakal Konser di...

Dukung Zero 2027, Kemenhub Buat Aplikasi Sumba

1 jam lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Dukung Zero 2027, Kemenhub ...
Kejutan Besar, Ekuador Lolos ke 32 Besar Usai Taklukkan Jerman 2-1 pada Laga Terakhir Grup E

Kejutan Besar, Ekuador Lolos ke 32 Besar Usai Taklukkan Jerman 2-1 pada Laga Terakhir Grup E

26 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.