Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cap Go Meh Bukan Sekadar Simbol Kekayaan Budaya Singkawang

📅 Selasa, 18 Feb 2025, 16:10 WIB | Oleh:

Ketika menjalankan ritual, seorang tatung biasanya mengenakan pakaian tradisional, baik yang berciri khas Tionghoa maupun Dayak.  

Tidak semua orang bisa menjadi tatung. Kemampuan ini seringkali diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga tertentu. Namun, ada juga yang menjadi tatung setelah menjalani proses pembelajaran dari seorang guru spiritual atau melalui pengalaman mistis seperti mimpi yang dianggap sebagai panggilan.

Dalam perayaan Cap Go Meh di Singkawang, peran tatung sangat penting sebagai penghubung antara dunia manusia dan alam spiritual. Mereka dipercaya mampu mengusir roh jahat dan membersihkan kota dari energi negatif melalui ritual yang dilakukan. Kehadiran mereka menjadi salah satu daya tarik utama dalam pawai tahunan Cap Go Meh.

Roh-roh yang dihadirkan dalam ritual tatung diyakini sebagai entitas baik yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan roh jahat. Saat dirasuki, tatung dianggap memiliki kekuatan gaib dan bertindak di luar kesadaran mereka, sehingga mampu menjaga keharmonisan hidup warga Singkawang.

Asal-Usul Tradisi Tatung

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Asmadi menyatakan bahwa keberadaan tatung di Singkawang sejak  tahun 1737. Tradisi itu memiliki akar sejarah yang dalam, terkait erat dengan kedatangan etnis Tionghoa ke Kalimantan Barat.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini bermula dari wabah penyakit yang melanda kawasan pertambangan emas di Monterado, sekarang masuk wilayah Kabupaten Bengkayang, pada pertengahan abad ke-18.

Pada masa itu, Sultan Sambas mendatangkan banyak pekerja tambang dari etnis Tionghoa, terutama dari suku Hakka, untuk bekerja di tambang emas.

Ketika wabah misterius menyerang dan menewaskan banyak orang, masyarakat setempat percaya bahwa hal ini disebabkan oleh roh-roh jahat. Karena belum ada pengobatan modern, para pendatang Tionghoa pun menggelar ritual tolak bala yang dikenal dalam bahasa Hakka sebagai ta ciau.

Ritual ta ciau melibatkan pemanggilan roh dewa dan leluhur untuk merasuki tubuh beberapa orang. Mereka yang kerasukan kemudian diarak keliling desa sambil menampilkan berbagai atraksi supranatural guna mengusir roh jahat penyebab wabah.

Setelah ritual ini dilakukan, wabah pun berangsur menghilang. Sejak saat itu, ritual tersebut berkembang menjadi tradisi yang terus dilestarikan dan dikenal sebagai tatung.

Seiring waktu, tradisi tatung berakulturasi dengan budaya lokal, khususnya budaya Dayak. Hal ini terjadi karena interaksi yang intens dan perkawinan campur antara etnis Tionghoa dan Dayak di Kalimantan Barat. Kedua kelompok ini memiliki tradisi yang melibatkan kekuatan supranatural dan penghormatan terhadap roh leluhur, sehingga menghasilkan perpaduan unik dalam ritual tatung.

Awalnya, ritual Tatung hanya dilakukan saat terjadi wabah atau bencana. Namun, lambat laun, tradisi ini menjadi bagian integral dari perayaan Cap Go Meh yang diadakan setiap tahun. Berkat kuatnya ikatan budaya dalam masyarakat multikultural Singkawang, tradisi ini terus bertahan hingga saat ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
  • Ekonom Optimistis Sektor Infrastruktur Telko Tetap Bersinar dalam Lima Tahun Mendatang
    Preview komentar:
Advertisement
gaia musik festival
Olahraga
The Blues Sambangi Indonesi...
Darurat Karhutla, Dalam 7 Bulan 219 Ribu Hektare Area Terindikasi Terbakar

Darurat Karhutla, Dalam 7 Bulan 219 Ribu Hektare Area Terindikasi Terbakar

07 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.