Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh: Waspada Ancaman ‘Megathrust’ dan alarm Perbaikan Mitigasi Bencana

📅 Selasa, 03 Des 2024, 11:17 WIB | Oleh: Tim Penulis

Indonesia juga memiliki beberapa zona megathrust, yaitu area di sepanjang pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi menghasilkan gempa besar, seperti yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004. Terdapat 13 zona megathrust di sekitar perairan laut barat Sumatera, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, utara Sulawesi, Halmahera dan Papua. Zona-zona ini berisiko memicu gempa dengan kekuatan antara 7,8 hingga 9,2 Mw yang berpotensi menghasilkan guncangan sangat besar dan bisa memicu tsunami.

Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, beberapa zona megathrust di Indonesia telah aktif melepaskan energi gempa. Sejumlah gempa besar tercatat berasal dari zona ini, seperti Gempa Biak (1996), Gempa Banyuwangi (1994), Gempa Aceh (2004), Gempa Nias (2005), Gempa Pangandaran (2006), dan Gempa Bengkulu (2007).

Namun, jika kita melihat data gempa selama 123 tahun terakhir, ada beberapa area di sepanjang zona megathrust yang jarang mengalami gempa besar. Hal ini disebabkan karena pergerakan lempeng di daerah tersebut tertahan dan mengakibatkan tekanan tektonik terus terakumulasi. Zona-zona dengan energi tertahan tanpa pelepasan yang signifikan, berpotensi tinggi memicu gempa besar di masa depan. Dalam geologi, fenomena ini disebut seismic gap atau celah seismik.

Salah satu contoh seismic gap terdapat di zona megathrust bagian barat dan timur Pulau Jawa. Di zona subduksi barat Jawa, misalnya, pergerakan lempeng yang tertahan atau disebut slip deficit—tercatat mencapai 40-60 mm per tahun. Artinya, setiap tahun, energi yang tertahan semakin besar. Jika suatu saat zona ini melepaskan energi tersebut, maka gempa besar akan terjadi dan mungkin juga memicu tsunami.

Perkembangan riset bencana

Kondisi geografis Indonesia yang sangat rawan bencana membuat banyak peneliti dari berbagai penjuru dunia datang untuk mempelajari katastrofe negeri ini, terutama setelah Tsunami Aceh 2004. Berdasarkan data platform Google Scholar, terdapat lebih dari seribu makalah ilmiah seputar gempa dan tsunami Indonesia yang telah terbit sejak 2005 hingga 2024.

Penelitian-penelitian ini sangat membantu pemahaman kita seputar sumber dan pola gempa di Indonesia. Riset tentang Tsunami Palu dan Selat Sunda pada 2018, misalnya, menjadi catatan yang sangat penting. Kedua kejadian tsunami ini tidak disebabkan oleh gempa secara langsung. Tsunami Palu dipicu oleh longsor bawah laut akibat gempa 7,5 Mw pada 28 September 2018. Sementara itu, kejadian Tsunami Selat Sunda dipicu oleh runtuhan sisi dinding Gunung Anak Krakatau (volcanic flank failures).

Peneliti dalam negeri juga tidak ketinggalan mengkaji sumber-sumber gempa besar dan gempa susulan (rangkaian gempa setelah gempa besar). Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai Gempa Lombok 2018 dan Gempa Cianjur 2022. Analisis terhadap gempa-gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama memberikan gambaran tentang pola seismisitas yang dapat dijadikan acuan mempelajari sumber dan mekanisme gempa serta mitigasi dan pengurangan risiko yang terjadi akibat gempa.

Melalui Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)-jaringan seismik yang dikelola BMKG, ruang kolaborasi riset kegempaan di Indonesia terus berkembang.

Hingga 2024, sistem ini telah memiliki 521 stasiun seismik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendeteksi gempa dengan cepat. Dengan data dari stasiun seismik tersebut, BMKG bisa lebih cepat memberikan informasi parameter gempa kepada masyarakat, terutama peringatan dini tsunami, yang bisa terjadi setelah gempa besar.

Mitigasi butuh kolaborasi

Para ilmuwan terus mempelajari pergerakan kerak bumi. Namun, sampai saat ini, kejadian gempa atau tsunami belum dapat terprediksi secara pasti. Untuk itu, langkah penting yang dapat dilakukan adalah melakukan mitigasi dan mengurangi risiko yang dapat timbul karena bencana tersebut.

Selain memahami sumber dan pola gempa, mitigasi bencana mencakup berbagai hal, termasuk edukasi masyarakat hingga penerapan konstruksi bangunan yang tahan gempa. Semua upaya ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

21 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.