Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Evaluasi Pola Konsumsi dan Belanja Pemerintah untuk Wujudkan Kemandirian

📅 Selasa, 23 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Evaluasi Pola Konsumsi dan Belanja Pemerintah untuk Wujudkan Kemandirian Doc: istimewa
Ket. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

» Indonesia harus tetap terbuka, namun memiliki daya tahan yang kuat melalui penguatan sektor produksi dalam negeri, investasi, serta konsumsi domestik.

JAKARTA - Kemandirian ekonomi sangat penting agar bisa tetap tumbuh tanpa terpengaruh berbagai tantangan dari eksternal. Apa pun yang terjadi di global, ekonomi Indonesia harus terus move on bergerak ke arah yang lebih maju. 

Gejolak global merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh Indonesia. Karena itu, upaya yang perlu dilakukan adalah memperkuat fondasi ekonomi domestik agar tetap mampu tumbuh di tengah berbagai tantangan eksternal. “Kalau globalnya bergejolak, ya, kita tidak bisa mengendalikan global. Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita. Mari perkuat kekuatan kita,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu di Jakarta, Senin (22/6).

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat daya tahan ekonomi nasional melalui pengembangan UMKM yang memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Saat ini terdapat lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia yang mayoritas berskala kecil dan menjadi penyerap tenaga kerja.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan pernyataan Gubernur BI yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi di tengah ketidakpastian global, karena Indonesia sebagai small open economy sangat rentan terhadap gejolak internasional yang hanya berperan sebagai price taker.

 “Situasi saat ini Indonesia adalah small open economy. Artinya sebagai produsen dan konsumen, Indonesia hanya pengambil ‘harga’ internasional dan tidak dapat mempengaruhinya,” ujar Suhartoko. Menurutnya, untuk mewujudkan kemandirian perlu evaluasi menyeluruh terhadap pola konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah. Ia mencontohkan konsumsi mie di Indonesia yang masih didominasi bahan baku gandum impor, padahal beras, singkong, dan jagung lebih mudah diproduksi dalam negeri.

“Tempe yang diakui sebagai makanan lokal rakyat, juga sangat tergantung kepada impor kedelai. Seharusnya dapat dikembangkan berbagai jenis tempe yang berbahan baku lokal,” katanya. Dari sisi jasa, Suhartoko menyoroti preferensi anak muda yang meningkat terhadap konten hiburan dari Korea, Tiongkok, Jepang dan Barat, sementara produk entertainmen domestik stagnan bahkan cenderung menurun peminatnya.

 Ia juga menyinggung ketergantungan industri domestik pada permodalan, bahan baku, teknologi, dan pasar ekspor luar negeri. Hal yang sama perlu dilihat pada belanja pemerintah. “Apakah belanja pemerintah juga berorientasi domestik? Jika jawabannya negatif, maka perlu melakukan langkah dan rencana tindakan yang serius untuk mewujudkan kemandirian ekonomi nasional,” tegasnya.

Bukan Menutup Diri

Sementara itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai ajakan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, agar Indonesia semakin mandiri di tengah tingginya ketidakpastian global merupakan langkah yang tepat.

Menurutnya, gejolak ekonomi dunia akibat perang dagang hingga konflik di Timur Tengah memang berada di luar kendali RI. Iyuk mengatakan kondisi global saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap faktor eksternal dapat membuat perekonomian nasional rentan terhadap berbagai guncangan. Karena itu, penguatan fondasi ekonomi domestik perlu menjadi prioritas agar pertumbuhan tetap terjaga. Menurut dia, kemandirian ekonomi tidak berarti menutup diri dari perdagangan dan kerja sama internasional.

 Sebaliknya, Indonesia harus tetap terbuka, namun memiliki daya tahan yang kuat melalui penguatan sektor produksi dalam negeri, investasi, serta konsumsi domestik. “Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memang harus semakin mengandalkan kekuatan ekonominya sendiri. Apa yang terjadi di luar negeri tidak selalu bisa kita kendalikan, tetapi kita bisa memperkuat daya tahan ekonomi dari dalam,” kata Iyuk.

Penguatan UMKM, industri nasional, hilirisasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi langkah penting untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Dengan fondasi domestik yang lebih kuat, Indonesia akan lebih siap menghadapi berbagai risiko global tanpa kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pemadaman Listrik Berulang Ancam UMKM

1.5 jam yang lalu | Lukman

Nasional
Pemadaman Listrik Berulang ...
Luar Negeri
Amerika Serikat dan Iran Ca...
Luar Negeri
Tiongkok Uji Terbang AWACS ...
Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.