Rupiah Hari Ini Melemah, Pasar Waswas Sikap The Fed
📅 Selasa, 23 Jun 2026, 17:48 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), terutama terkait ekspektasi suku bunga The Fed.
Ketika pasar memperkirakan suku bunga AS tetap tinggi atau berpotensi bertahan lebih lama, imbal hasil aset berbasis dolar menjadi lebih besar sehingga mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, tekanan pada rupiah juga dipengaruhi oleh sikap wait and see pelaku pasar yang menyesuaikan portofolio terhadap risiko eksternal.
Hal ini memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven), yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah di pasar spot.
Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan The Fed, kondisi inflasi global, serta kemampuan bank sentral menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (23/6) sore, melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.843 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan pelemahan rupiah seiring pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
“Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS, meskipun pelemahannya diperkirakan tidak terlalu dalam karena sebagian sentimen global mulai menunjukkan perbaikan,” katanya di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indeks Dolar AS (DXY) disebut bertahan di sekitar level 101,00 seiring ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Sikap hawkish yang ditunjukkan Ketua The Fed, Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga terbaru meningkatkan keyakinan pasar atas peluang kenaikan suku bunga masih terbuka dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, lanjutnya, penguatan dolar mulai tertahan setelah muncul perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global.
Melihat sentimen dari dalam negeri, dampak positif datang dari rencana penerbitan Panda Bond yang menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT).
“Langkah ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah. Meski demikian, tingginya kebutuhan valuta asing untuk kegiatan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah,” ujar Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.868 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.819 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!