Ini Permasalahan TPST Bantargebang Dulu dan Sekarang
📅 Rabu, 03 Jul 2024, 22:08 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoSekarang sampah yang masuk ke TPST sekitar 7.500-7.800 ton/hari, yang diangkut oleh sebanyak 1.300 truk. Wilayah Kecamatan Bantargebang juga menampung sampah Kota Bekasi. Sekitar 1.500 ton/hari sampah dikirim ke TPA Sumurbatu. Jadi, keseluruhan sampah yang masuh Bantargebang sekitar 9.500-10.000 ton/hari, didominasi sampah plastik konvesnional.
Data pertambahan volume sampah ke TPST Bantargebang. Tahun 2015 rata-rata sebanyak 6.419,14 ton/hari. Tahun 2016 rata-rata sebanyak 6.561,99 ton/hari. Tahun 2017 rata-rata sebanyak 6.875,49 ton/hari. Tahun 2018 rata-rata sebanyak 7.452,60 ton/hari. Tahun 2019 rata-rata sebanyak 7.702,07 ton/hari. Artinya secara faktual terjadi peningkatan sampah Jakarta yang dikirim ke TPST Bantargebang dalam kurun 4-5 tahun cukup besar.
Jumlah volume sampah akan terus bertambah jika dibiarkan dan tidak diolah secara serius dan profesional akan menimbulkan gunung-gunung sampah, perluasan lahan dengan menggilas pemukiman warga sekitar. Pengelolaan sampah yang buruk akan menimbulkan tragedi kemanuisan dan lingkungan hidup.
Permasalahan TPST Bantargebang
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan kajian cepat Bagong dan tim pada 2018-2019, terdapat sebanyak 24 permasalahan di TPST Banatrgebang. Kajian itu mengungkapkan permasalahan di tingkat lapangan dan solusi secara komprehensif dan berkelanjutnya. Sebagian permasalahan telah ditangani. Beberapa permasalahan dan bahaya yang akan mengancam kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup sekitar TPST Bantargebang sekarang.
Pertama, tambah Bagong, beban volume sampah makin banyak. Kondisi per 16 Januari 2023 hampir semua zona penuh, rata-rata ketinggian 40-50 meter. Samaph yang diolah sekitar 15-20% saja dari total sampah yang masuk ke TPST. Volume sampah masuk ke TPST Bantargebang semakin banyak dan menimbulkan rasa was-was, karena bisa mendatangkan bencana.
Kedua, tambah dia, beban estetika semakin buruk. Sampah yang semakin banyak tidak dipilah, tidak diolah mengambarkan kondisi estetika buruk. Kondisi ini menunjukkan suatu peradaban kuno dan jorok, boleh jadi merendahkan martabat manusia. Jika bicara Bantargebang, maka selalu muncul "image"-nya buruk, jorok, kumuh dikaitkan dengan sampah yang amburadul.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketiga, beban lingkungan semakin berat. Pertambahan volume sampah sekitar 2,2 juta ton sampai 2,7 juta ton per tahun tidak diolah secara signifikan mengakibatkan terjadi pencemaran udara, air permukaan dan dalam serta tanah semakin massif. Pencemaran udara kotor disebabkan oleh operasional TPST, asap dari alat berat dan truk sampah selama 24 jam.
Pengelolaan air lindi belum maksimal pada IPAS I dan II. Apalagi ketika musim hujan, air lindi bercampur air hujan sebagian mengalir ke saluran air menuju kali Ciketing. Selanjutnya bertambah lagi, air hujan bercampur lindi dari TPA Sumurbatu dan limbah tinja IPLT Sumurbatu menuju Kali Asem, Kali Pedurenan, Perumahan Dukuh Zamrud, Perumahan Niagara, Mutiara Gading Bekasi Timur, crossing tol Jatimulya Kalimalang.
"Pencemaran air kali mulai dari Bantargebang hingga Jatimulya kini semakin massif. Warnanya hitam pekat dan sangat bau. Jelas di dalam air kali terdapat lindi dari TPST/TPA, tinja dari IPLT, limbah domestik perumahan, limbah pabrik," kata Bagong.
Pada musim hujan, tambah Bagong, gunung-gunung sampah rawan longsor. Jika terjadi longsor akan menimbulkan malapetaka menelan korban nyawa, seperti kasus sampah longsor di TPA Luewigajah tahun 2005, kasus TPA Bantargebang tahun 2006.
Keempat, tambah dia, warga sekitar Bantargebang tekor air bersih layak dikonsumsi. Sebagian uang pendapatan warga digunakan untuk beli air minum (mineral galon), keluarga kecil habis 2-3 galon per minggu, keluarga besar habis 4-5 galon per minggu. Harga air mineral isi ulang 5-6 ribu rupiah/galon, yang asli 18-20 ribu rupiah/galon. Air tanah sekitar rata-rata sudah tercemar, kadar pH nya tidak normal, bahkan ada yang tercemar logam berat.
Kelima, tambah Bagong, ancaman kesehatan sangat nyata. Ada 20 penyakit terbesar berdasar data UPTD Kecamatan Bantargebang tahun 2017. Penyakit tersebut, yaitu rangking pertama diduduki ISPA; Dispepsia; Demam yang tidak diketahui; Diare dan Gastroenteritis; Faringitis Akuta; Myalgia; Hipertensi Primer (esensial); Migren dan sindrom nyeri kepala; Artritis lainnya; Gastritis dan duodenitis; Diabetes Mellitus tidak spesifik; kunjungtivitis; Nasofaringitis Akuta (Common Cold); Tonsilitis Akuta; Gangguan lain pada kulit; Pneumonia; Abses; Furunkel; Karbunkel Futan; Varisela/Cacar air; Dermatitis Kontak, dan Rematisme tidak spesifik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!