Riset: Pendidikan Energi Dapat Dihidupkan Lewat Pelajaran Agama
📅 Selasa, 02 Jul 2024, 13:09 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Bagus Park
Rohmatulloh, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Pendidikan energi (energy education) atau pendidikan hemat energi dalam konteks global telah berkembang pesat di berbagai negara, misalnya di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang. Riset-riset pendidikan energi pun semakin banyak menawarkan berbagai perspektif, seperti pembelajaran pendididikan energi terintegrasi di sekolah dan rumah,pembelajaran dengan penyampaian pesan norma sosial hemat energi, dan pembelajaran kurikulum geospasial terintegrasi dengan topik energi.
Sayangnya, dari riset-riset yang ada, belum banyak yang melihat hemat energi dari sudut pandang nilai etika agama. Alhasil, internalisasi nilai etika hemat energi yang dipraktikkan hanya berpusat pada ilmu pengetahuan alam, sosial, dan humaniora.
Riset yang kami lakukan di Bandung, Jawa Barat, menunjukan bahwa dengan menyertakan nilai-nilai etika agama dalam pendidikan energi, orientasi dan tujuan dari hemat energi dapat lebih terinternalisasi dalam sikap dan perilaku karena langsung terkait dengan ajaran agama yang menjadi keyakinan siswa.
Riset ini juga mengembangkan kerangka kerja konseptual untuk mengintegrasikan pendidikan hemat energi dengan nilai-nilai etika Islam di sekolah menengah Islam atau madrasah yang terintegrasi dengan sistem pondok pesantren (boarding school).
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara empiris, pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang khas telah banyak berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat, tidak terkecuali dalam hal konservasi energi dan lingkungan hidup. Pesantren mampu menguatkan peran nilai-nilai agama di lembaga pendidikan dan lingkungan masyarakat, untuk merumuskan solusi permasalahan lingkungan secara teoritis dan praktis. Misalnya, pesantren berbasis lingkungan hidup (ekopesantren) Al Ittifaq yang menjadi model pemberdayaan ekonomi agribisnis.
Literasi energi dalam pelajaran agama
Pendidikan hemat energi, ketika diturunkan ke dalam kerangka kerja literasi energi, mencakup setidaknya pemahaman konsep dasar energi, penambahan sikap positif terhadap konsumsi energi, dan pembinaan kebiasaan hemat energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Memahami konsep dasar energi dengan etika
Dalam tradisi pendidikan pesantren dan madrasah, kitab pedoman etika Ta'lim al-Muta'allim karya Imam al-Zarnuji menjadi bagian dari kurikulum tidak terpisahkan dalam proses belajar dan mengajar. Kitab ini banyak menjelaskan pedoman etika yang berdimensi horizontal (hubungan antarmanusia dan makhluk lainnya) dan vertikal (hubungan manusia dengan Allah) untuk mencapai keberkahan dan manfaat setelah mendapatkan ilmu yang dipelajarinya.
Berdasarkan temuan riset kami, sekolah mengajarkan beberapa nilai etika Islam yang dapat diinternalisasikan dengan perilaku hemat energi. Beberapa di antaranya adalah gaya hidup sederhana, mengungkapkan rasa syukur, bersungguh-sungguh (man jadda wajada), menjaga keseimbangan (tawazun), menghindari melampaui batas (tatharuf), dan mencegah pemborosan (isyraf dan tabzir).
Nilai tawazun, misalnya, berkaitan dengan perilaku hemat atau iqtishad. Perilaku ini secara umum dimaknai sebagai penggunaan segala sesuatu yang tersedia-harta benda, waktu, dan tenaga-sesuai keperluan. Iqtishad adalah jalan tengah antara perilaku boros dan kikir.
2. Konsumsi energi yang positif
Nilai etika agama bisa juga menjadi sumber inspirasi penggunaan energi secara positif-tidak boros atau sia-sia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!