Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ceuta, Kota Spanyol di Afrika yang Menyimpan Jejak Penaklukan Lebih dari 600 Tahun

📅 Senin, 03 Agu 2026, 06:05 WIB | Oleh:
Ceuta, Kota Spanyol di Afrika yang Menyimpan  Jejak Penaklukan Lebih dari 600 Tahun Doc: AFP/FADEL SENNA
Ket. Sebuah foto yang diambil pada 4 September 2018 menunjukkan pemandangan umum wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, yang terletak di Selat Gibraltar, dikelilingi oleh Maroko.

Di peta Eropa, ada sebuah wilayah yang sekilas tampak seperti anomali geografis. Spanyol, negara yang wilayah utamanya berada di Semenanjung Iberia, ternyata memiliki dua kota yang terletak di daratan Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko.

Kota tersebut adalah Ceuta dan Melilla. Kali ini, tulisan akan lebih fokus pada Ceuta, yang belakangan ini menghiasi berita internasional karena krisis migrasi dan kemanusiaan berskala besar, yaitu penyeberangan secara ilegal dari wilayah Maroko ke Ceuta dalam waktu singkat.

Letaknya berada di ujung utara Afrika, tepat di sisi selatan Selat Gibraltar. Dari kawasan ini, daratan Spanyol di Semenanjung Iberia dapat terlihat jelas hanya dari seberang laut. Jarak yang relatif pendek tersebut membuat Ceuta sejak zaman kuno menjadi salah satu titik paling strategis di kawasan Mediterania Barat.

Secara geografis, Ceuta adalah Afrika. Namun secara politik, hukum, dan administratif, kota tersebut merupakan bagian dari Spanyol. Saat ini, Ceuta berstatus sebagai ciudad autónoma atau kota otonom Spanyol.

Status tersebut diberikan melalui Ley Orgánica 1/1995 tentang Statuta Otonomi Ceuta yang mulai berlaku pada Maret 1995. Dalam statuta tersebut, Ceuta secara tegas dinyatakan sebagai bagian dari bangsa Spanyol dan memperoleh rezim pemerintahan sendiri untuk mengelola kepentingannya. Namun, status Ceuta sebagai kota Spanyol tidak lahir dari keputusan modern semata; sejarahnya jauh lebih panjang.

Selama berabad-abad, kota ini berpindah tangan di antara berbagai kekuatan yang menguasai kawasan Mediterania. Bangsa Fenisia, Kartago, Romawi, Vandal, Bizantium, dan berbagai kerajaan Muslim pernah memiliki hubungan dengan wilayah tersebut.

Bahkan, nama Ceuta sendiri berakar dari bahasa Latin Septem Fratres, yang merujuk pada tujuh bukit di kawasan kota. Dalam bahasa Arab, nama tersebut berkembang menjadi Sebta, yang kemudian diserap menjadi Ceuta dalam bahasa Spanyol.

Titik balik terpenting dalam sejarah modern Ceuta terjadi pada 21 Agustus 1415, saat pasukan Portugis menaklukkan kota tersebut. Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak awal ekspansi maritim Portugis dan sejarah kolonial Eropa di luar Semenanjung Iberia.

Ironisnya, Ceuta yang pada awalnya ditaklukkan Portugis justru akhirnya menjadi bagian dari Spanyol. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Diperebutkan Banyak Kekuasaan

Untuk memahami mengapa Ceuta begitu penting, sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya. Wilayah ini terletak di dekat Selat Gibraltar, jalur laut yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Samudra Atlantik. Di sebelah utaranya terdapat Semenanjung Iberia, sementara di sebelah selatannya terbentang Afrika Utara. Posisi tersebut menjadikannya sebuah gerbang strategis.

Siapa pun yang menguasai kota itu memiliki posisi ideal untuk mengawasi lalu lintas kapal yang keluar-masuk Mediterania. Selain kepentingan militer, Ceuta juga berada di jaringan perdagangan yang menghubungkan Afrika Utara, Mediterania, dan wilayah yang lebih jauh ke selatan. Itulah mengapa Ceuta sejak zaman kuno selalu menjadi wilayah yang diperebutkan.

Sebelum kedatangan bangsa Portugis, kota tersebut telah mengalami pergantian penguasa berkali-kali. Bangsa Fenisia dan Kartago memanfaatkan kawasan ini sebagai bagian dari jaringan perdagangan mereka.

Kekuasaan Romawi kemudian hadir, disusul oleh bangsa Vandal dan Bizantium. Pada awal abad ke-8, kekuasaan Muslim mencapai Ceuta, dan kota tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah hubungan Afrika Utara dengan Semenanjung Iberia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.