Riset: Program Kampung Iklim Mampu Kuatkan Budaya Lingkungan dan Bisnis Masyarakat Desa
📅 Sabtu, 01 Jun 2024, 14:00 WIB | Oleh: Tim PenulisDi desa Selamanik, bank sampah bahkan mulai mengepul sisa plastik tak terpakai untuk menjadi bahan baku batu bata ramah lingkungan. Setiap RT di desa ini membangun bank sampah. Sebanyak 42 di antaranya RT memiliki bank sampah masing-masing.
Selain mengolah sampah plastik, Proklim juga menghidupkan budaya pengelolaan limbah peternakan maupun pertanian melalui pembuatan pupuk kandang dan kompos. Sebelumnya, kotoran hewan dan sampah organik hanya dibuang begitu saja.
Warga di Proklim yang kami amati juga mengolah sampah organik menjadi kompos dan pupuk kandang dari sisa peternakan untuk memberi pemasukan tambahan bagi warga. Hal ini sudah dilakukan di dusun Selacai. Pembeli berasal dari dalam dan luar kampung, bahkan instansi pemerintah pernah membeli kompos dari Selacai.
Kegiatan pembuatan pupuk sebenarnya sudah dilakukan sejak 2019 sebelum Proklim digulirkan. Namun, hadirnya Proklim berhasil meningkatkan promosi pengolahan sampah menjadi pupuk untuk direplikasi di dusun lain yang memiliki potensi serupa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Merangsang pertanian dan pariwisata
Proklim juga berhasil menghidupkan kembali budaya pertanian yang telah banyak ditinggalkan. Lahan tidur, termasuk lahan pekarangan, juga digalakkan dengan penanaman sayur mayur dan tanaman obat keluarga (TOGA) seperti kunyit, jahe, dan kapulaga.
Sayur mayur yang produksinya berlebih juga akan menjadi pemasukan tambahan bagi kelompok karena ada pembeli, terutama penjual sayur keliling antar kampung yang siap menampung hasil pertanian tersebut. Sementara, keberadaan TOGA dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yang terakhir adalah pengenalan budaya bisnis baru. Kami mengamati Proklim juga dapat merangsang bisnis jasa wisata. Bisnis ini merupakan hal baru karena biasanya usaha perdesaan kerap terkait dengan sektor pertanian, wanatani, dan produk olahannya.
Desa Selamanik adalah salah satu desa yang mengembangkan usaha pariwisata. Desa Selamanik pun ini telah masuk dalam daftar desa wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Tantangan dan solusi
Dari pengamatan di keempat dusun Proklim, aspek keberlanjutan program dalam Proklim di masing-masing desa akan diuji saat sokongan dan fasilitasi program dari pemerintah kabupaten berhenti atau dikurangi.
Oleh karena itu, Proklim semestinya juga mengandalkan dana desa, mengingat kegiatan ini juga menyokong pembangunan kampung. Keberlanjutan program ini menuntut komitmen pemerintah desa.
Berdasarkan analisis jejaring sosial, hadirnya pemimpin/tokoh lokal (tidak harus pejabat di desa) menjadi penentu kesuksesan program Proklim. Sebagai motor Proklim, pemimpin ataupun tokoh menjadi pemicu kesadaran banyak orang akan pentingnya aksi dalam Proklim.
Oleh karena itu, keberadaan tokoh semacam ini adalah mutlak ada dan wajib diidentifikasi di awal program. Mereka dapat menjadi penjamin bahwa program-program yang akan digulirkan berjalan seperti yang diinginkan. Sehingga dana program yang diberikan akan menjadi efektif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!