Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ChatGPT Berdampak Buruk bagi Lingkungan? Simak Kata Ahli Komputer

📅 Kamis, 25 Mei 2023, 10:31 WIB | Oleh: Tim Penulis
ChatGPT Berdampak Buruk bagi Lingkungan? Simak Kata Ahli Komputer Doc: Theconversation/AP/Steve Helber
Ket. AI chatbots, mesin pencari, dan pembuat gambar dengan cepat menjadi arus utama, menambah jejak karbon AI.

Kate Saenko, Boston University

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif adalah teknologi mutakhir yang acap dipakai untuk chatbot dan pembuatan gambar. Lantas apa saja dampak AI terhadap Bumi?

Sebagai peneliti AI, saya sering mengkhawatirkan ongkos energi yang dikeluarkan untuk membangun suatu model kecerdasan buatan. Semakin pintar AI, maka semakin banyak energi yang disedot untuk operasionalnya. Bagaimana maraknya kemunculan AI generatif terhadap jejak karbon penggunanya pada masa depan?

"Generatif" adalah istilah untuk kemampuan AI memproduksi data yang kompleks. Lawannya adalah "AI diskriminatif" yang bekerja dengan opsi-opsi yang sudah ada dan memproduksi keluaran atau keputusan tertentu. Salah satu contohnya adalah bagaimana AI diskriminatif memutuskan untuk menolak atau menerima pengajuan kredit.

Sementara itu, AI generatif dapat membuat keluaran yang lebih kompleks seperti kalimat, paragraf, gambar, atau bahkan video pendek. Teknologi ini sebenarnya telah lama dipakai dalam aplikasi smart speakers untuk menghasilkan respons suara, ataupun fitur autocomplete guna merekomendasikan sebuah pencarian.

Namun, popularitas AI generatif jadi bertambah karena teknologi ini sudah bisa memproduksi konten berbahasa seperti manusia ataupun foto realistis.

Menyedot listrik lebih banyak

Hingga saat ini belum ada angka pasti seputar ongkos energi yang dihabiskan untuk satu model AI. Ongkos ini misalnya energi yang digunakan untuk membuat peralatan komputasi, pembuatan model ataupun penerapannya dalam proses produksi.

Pada 2019, para peneliti menemukan bahwa pembuatan AI generatif bernama BERT yang beroperasi dengan 110 juta parameter menghabiskan energi yang setara dengan sekali perjalanan antarbenua dengan pesawat terbang. Jumlah parameter menentukan ukuran model AI. Semakin besar jumlahnya, maka AI semakin cerdas.

Peneliti memperkirakan proses pembuatan GPT-3 (model AI terbaru hasil pengembangan ChatGPT) yang memiliki 175 miliar parameter, menghabiskan listrik 1.287 megawatt jam yang menghasilkan 552 ton CO2. Emisi itu setara dengan emisi dari 123 mobil berbahan bakar bensin yang hilir mudik selama setahun.

Angka di atas baru berasal dari proses pembuatannya, sebelum digunakan secara massal oleh pengguna.

Walau begitu, ukuran pun bukan satu-satunya tolok ukur emisi karbon dari AI. Model AI open access BLOOM yang dikembangkan BigScience project di Prancis, berukuran mirip dengan GPT-3 tapi memiliki jejak karbon jauh lebih rendah. BLOOM hanya menghabiskan listrik 433 megawatt jam dan menghasilkan emisi 30 ton setara CO2.

Google dalam studinya menemukan, penggunaan AI dengan ukuran serupa tapi dilengkapi model perancangan dan prosesor yang lebih efisien, serta ditopang pusat data yang lebih ramah lingkungan, bisa memangkas jejak karbon seratus hingga seribu kali.

Saat sudah diluncurkan, model AI yang lebih besar memang menghabiskan energi lebih banyak. Data terkait jejak karbon dalam satu permintaan AI generatif masih terbatas. Beberapa pihak memperkirakan jumlahnya bisa mencapai 4-5 kali lipat lebih tinggi dari satu permintaan di mesin pencari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

PSG Gandeng Google, Gemini Resmi Jadi Asisten AI Klub

15 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
PSG Gandeng Google, Gemini ...

Tren Mendaki "Tek Tok" Makan Korban, Malaysia Larang Jalur Berisiko

21 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Tren Mendaki "Tek Tok" Maka...
Luar Negeri
Kenapa Ada Kebijakan Baru I...
Olahraga
Ini Klasemen Grup A Piala A...
Luar Negeri
Semoga Tidak Ada Korban Jiw...
Ekonomi
Diversifikasi Ekspor Jadi K...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.