Kemenperin Dorong Gen Z Kembangkan Industri Batik
📅 Sabtu, 03 Okt 2026, 19:20 WIB | Oleh: Ilham SudrajatSURABAYA - Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengatakan generasi muda memiliki ruang luas untuk terlibat dalam pengembangan industri batik. Kontribusi tersebut dapat dilakukan melalui kreativitas, teknologi, desain, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan, hingga komunikasi budaya.
Menurut dia, industri batik memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Indonesia sekaligus potensi ekonomi yang besar. Oleh karena itu, lanjut dia, penguatan industri batik tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga membantu perajin dan pelaku usaha berkembang mengikuti pasar.
“Pelestarian juga perlu berjalan bersama upaya. Hal ini untuk membuat para perajin batik mampu bertahan dan berkembang,” ujar Wamen Faisol pada Community Engagement bertajuk “Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry” dalam rangkaian Industrial Festival x Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, dikutip Sabtu (3/10).
Faisol mengatakan bahwa industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan atau year-on-year pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
Pada periode yang sama, industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar sebesar 0,97 persen. Gambaran tersebut menunjukkan besarnya peran sektor industri dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Potensi ekonomi industri batik juga terlihat dari perkembangan ekspornya. Berdasarkan data Kemenperin, ekspor produk batik pada 2025 meningkat 32,50 persen menjadi USD20,14 juta dibandingkan tahun 2024.
“Ketika kita berbicara tentang industri batik yang lebih kuat, kita sedang membicarakan seluruh perjalanan produk. Dari ide dan keterampilan perajin, proses produksi, mutu, cerita, hingga pengalaman orang yang membeli dan memakainya,” kata Faisol.
Pelestarian industri batik membutuhkan regenerasi agar keberlangsungannya tetap terjaga. Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki ruang untuk terlibat melalui kreativitas, teknologi, desain, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan, hingga komunikasi budaya.
Dalam paparannya, ia mencontohkan kolaborasi antara perajin dan mahasiswa. Perajin dapat bekerja sama dengan generasi muda yang memiliki kemampuan fotografi, penulisan, pembuatan katalog digital, maupun pemasaran melalui e-commerce.
“Ketika keduanya ini bertemu maka menjadikan sebuah kolaborasi yang kuat. Dan hal tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi konkret dari generasi muda atau Gen Z,” ucap Faisol.
Selain kolaborasi di bidang pemasaran, generasi muda dapat mengambil peran dalam pengembangan teknologi produksi. Kemampuan membuat konten, menganalisis data, dan membangun komunitas membantu pelaku usaha menyajikan informasi menarik serta memperkuat komunikasi pasar.
Ruang inovasi juga terbuka dalam pengembangan desain produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Batik dapat dikembangkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari kuliah, bekerja, menghadiri acara, hingga penggunaan sehari-hari dengan tetap memperhatikan asal-usul dan makna motifnya.
Aspek keberlanjutan turut menjadi bagian dari pengembangan industri batik. Generasi muda peduli lingkungan dapat terlibat mencari cara penggunaan air dan bahan lebih bertanggung jawab sesuai kebutuhan usaha. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!