Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ChatGPT Berdampak Buruk bagi Lingkungan? Simak Kata Ahli Komputer

📅 Kamis, 25 Mei 2023, 10:31 WIB | Oleh: Tim Penulis

Saat chatbot dan pembuat gambar menjadi semakin populer, dan saat Google maupun Microsoft menerapkan model bahasa AI di mesin pencari mereka, maka setiap hari jumlah pertanyaan yang mereka terima bisa terus bertumbuh secara eksponensial.

Bot AI untuk pencarian

Beberapa tahun lalu, tak banyak orang di luar lab riset yang menggunakan model seperti BERT dan GPT. Kondisi berubah pada 30 November 2022, ketika OpenAI meluncurkan ChatGPT.

Menurut data terakhir yang tersedia, per Maret 2023 ada sekitar 1,5 miliar kunjungan ke ChatGPT. Dua bulan kemudian, Microsoft juga memasukkan ChatGPT dalam mesin pencari mereka, Bing, sehingga setiap orang bisa menggunakannya.

Jika chatbot sama populernya dengan mesin pencari, ongkos energi dalam operasional AI akan terus bertambah. Bantuan AI juga tak hanya mencakup pencarian, bisa juga penulisan dokumen, pemecahan soal matematika, hingga membuat kampanye pemasaran.

Model AI juga harus selalu diperbarui. Misalnya, ChatGPT hanya dilatih dengan data per 2021. Karena itu model AI ini tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya. Jejak karbon dalam pembuatan ChatGPT tak termasuk informasi publik, tapi patut diduga angkanya lebih besar dari GPT-3. Nah, pembaruan pengetahuan ChatGPT terus menerus bisa menyedot energi lebih besar lagi.

Ada juga orang yang bertanya ke chatbot untuk memperoleh lebih banyak informasi dibandingkan mesin pencari. Dibandingkan menampilkan halaman yang penuh dengan tautan, kamu akan mendapatkan jawaban langsung seperti saat kamu bertanya ke manusia-dengan asumsi tak ada masalah dengan akurasinya. Cepatnya perolehan informasi dapat menyeimbangkan kenaikan penggunaan energi dari AI dibandingkan mesin pencari.

Langkah ke depan

Masa depan amat susah diprediksi. Namun, model AI generatif yang besar bisa terus ada. Orang-orang juga bisa semakin mengandalkannya untuk memperoleh informasi.

Misalnya, saat ini siswa yang membutuhkan pemecahan soal matematika bisa langsung bertanya ke guru ataupun temannya, ataupun membaca buku teks. Di masa depan, mereka mungkin akan bertanya ke chatbot. Kebutuhan terhadap pengetahuan ahli juga bisa berlaku pada persoalan hukum ataupun kesehatan.

Satu model AI yang besar memang tidak langsung merusak lingkungan. Namun, jika ribuan perusahaan mengembangkan ribuan AI bot untuk beragam tujuan, dan setiap modelnya digunakan oleh jutaan pengguna, maka pemakaian energinya bisa bermasalah. Kita membutuhkan lebih banyak riset agar AI generatif beroperasi lebih efisien.

Pemakaian listrik energi terbarukan juga bisa membuat operasional AI lebih rendah emisi sepertiga puluh ataupun seperempat puluh dibandingkan energi fosil. Caranya dengan penempatan sistem komputasi di lokasi yang memiliki banyak energi bersih, ataupun menjadwalkan operasi pada pagi-sore hari, kala pasokan energi terbarukan lebih banyak.

Akhirulkalam, tekanan sosial memang bisa mendorong perusahaan ataupun lab riset untuk mengumumkan jejak karbon model AI mereka-beberapa sudah melakukannya. Harapannya, pada masa depan, konsumen dapat menggunakan informasi tersebut untuk memilih chatbot yang ramah lingkungan.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Tangerang Bergetar Dengar K...
Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.