Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Anak Anda Alami Keracunan Makanan? Ini Pertolongan Pertama yang bisa Dilakukan!

📅 Sabtu, 12 Sep 2026, 11:01 WIB | Oleh:
Anak Anda Alami Keracunan Makanan? Ini Pertolongan Pertama yang bisa Dilakukan! Doc: Antara Jatim/Syaiful Arif
Ket. Siswa SMP Negeri 1 Kabuh menjalani pemeriksaan kesehatan setelah diduga mengalami gejala keracunan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (3/9). Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang berupaya memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan dengan baik oleh rumah sakit dan tenaga medis.

JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah kiat pertolongan pertama yang dapat orang tua lakukan di rumah ketika anak-anak diduga mengalami keracunan makanan.

"Yang membahayakan anak adalah kehilangan cairan, bukan hanya kumannya. Kita bisa beri oralit sedikit-sedikit tapi sering, ASI dan makanan diteruskan, pantau anak berapa kali berkemih," kata Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K) dalam diskusi media di Jakarta, Jumat.

Dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan keracunan makanan merupakan penyakit yang timbul setelah mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dan/atau racun, virus, parasit atau bahan kimia.

Gejala yang lazim ditemui bila anak keracunan adalah timbulnya rasa mual dan muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair atau BAB berdarah.

Terdapat pula gejala yang tidak khas dan perlu diwaspadai seperti demam, nyeri kepala atau pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak dan kesemutan yang perlu segera mendapatkan penanganan dari tenaga medis.

Pada sebagian besar kasus, Yogi menyebut anak-anak menunjukkan tanda dehidrasi seperti mulut kering, kehausan terus menerus, pusing, berkemih lebih jarang, warna air kemih pekat dan lemas.

Bila anak menunjukkan tanda-tanda tersebut, Yogi menyarankan supaya orang tua segera menghentikan makanan yang dicurigai menjadi penyebab keracunan. Simpan sisanya dan jangan dibuang sampai menemukan bukti yang konkret.

Kemudian berikan anak oralit sedikit demi sedikit untuk mencegah dehidrasi kian parah.

"Muntah bukan alasan berhenti memberi cairan, tapi pemberiannya diperlambat, bukan dihentikan," ujar Yogi.

Ia melanjutkan ASI maupun makan tetap harus diberikan sesuai kemampuan anak. Menurutnya, berpuasa tidak akan mempercepat penyembuhan.

Setelah gejala muntah mereda, berikan makanan lunak dalam porsi kecil. Menu yang ia contohkan seperti bubur, pisang atau roti.

Pastikan anak beristirahat cukup dan pantau berapa kali anak berkemih.

Hal lain yang Yogi sampaikan adalah selama fase itu orang tua perlu menghindari membuat larutan garam sendiri sebagai oralit. Dikhawatirkan kadar garamnya menjadi tidak terkendali dan berbahaya bagi anak.

Jangan merangsang anak untuk muntah maupun memberi arang aktif di rumah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Nasional
Pengungkapan Narkotika Keta...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.