Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Partai Digital' dan Suara Generasi Milenial-Gen Z di Pemilu 2024

📅 Minggu, 05 Mar 2023, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
'Partai Digital' dan Suara Generasi Milenial-Gen Z di Pemilu 2024 Doc: freepik/kasipat
Ket. Ilustrasi - Generasi milenial dan generasi Z akan mendominasi suara pada pemilu 2024.

Silvanus Alvin, S. I. Kom., M. A., Universitas Multimedia Nusantara

Tingginya intensitas masyarakat Indonesia dalam menghabiskan waktu di dunia maya, terlepas apapun status ekonomi dan sosialnya, turut berdampak pada praktik politik.

Berbagai partai politik kini berusaha untuk menjangkau publik dengan memanfaatkan media sosial. Hampir semua partai memiliki akun media sosial dan aktif di dunia maya untuk menggaet suara pemilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Di negara Barat, fenomena digitalisasi politik mendorong kelahiran partai digital, konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Paolo Gerbaudo, seorang akademikus dari King's College London, Inggris.

Paolo mendefinisikan partai digital sebagai partai yang menerapkan filosofi digital, yakni mengutamakan penggunaan teknologi untuk berkomunikasi dengan kader partai maupun masyarakat luas.

Mengingat pentingnya penguatan peran masyarakat dalam berpolitik, maka partai-partai di Indonesia perlu segera berubah menjadi partai digital. Apalagi, pemilik suara dominan untuk Pemilu 2024 berasal dari generasi milenial dan generasi Z (Gen Z) yang aktif bermedia sosial.

Karakteristik Partai Digital

Partai digital memiliki setidaknya lima karakteristik:

Pertama, infrastruktur berbasiskan perangkat lunak yang tersimpan di sistem awan (cloud). Perangkat lunak yang dapat diakses secara daring ini portal untuk mengakses beragam informasi maupun fitur.

Salah satu contoh perangkat ini adalah aplikasi digital, sebagai wujud alternatif dari partai digital. Pasalnya, bangunan fisik tidak lagi mutlak dibutuhkan. Dengan cloud system, siapapun bisa mengakses informasi dan pelayanan terkait masing-masing parpol di mana saja dan kapan saja.

Kedua, partisipasi sebagai napas partai.

Keberadaan partai digital akan kehilangan esensi bila tidak ada partisipasi di dalamnya. Karena itu, infrastruktur digital atau aplikasi yang diciptakan partai politik harus memberikan ruang memadai bagi publik untuk bersuara. Aplikasi ini juga mesti mampu merekam dan mencatat aspirasi masyarakat. Ini akan dapat memudahkan politikus untuk merumuskan kebijakan belandaskan data serta keinginan dan kebutuhan publik.

Ketiga, partai digital perlu memiliki satu hyperleader (tokoh sentral).

Contoh praktiknya ada pada perusahaan teknologi besar. Jack Ma, misalnya, sebagai tokoh sentral Alibaba (e-commerce raksasa asal Cina). Ada juga Mark Zuckerberg sebagai ikon Meta (dulunya Facebook), dan Elon Musk sebagai 'patron' di Tesla. Partai sebesar apapun tidak akan bertahan tanpa sosok pemimpin yang kuat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

36 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.