'Partai Digital' dan Suara Generasi Milenial-Gen Z di Pemilu 2024
📅 Minggu, 05 Mar 2023, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisNamun, sosok dalam konteks digital agak berbeda dengan figur sentral dalam partai konvensional, yang jumlahnya bisa dua atau lebih dan masih berpotensi untuk terus muncul wajah-wajah baru. Di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), misalnya, ada Megawati Soekarnoputri yang dianggap penerus trah Soekarno. Namun, ada pula wajah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, yang mulai menjadi ikon. Di partai digital, sosok sentral biasanya hanya mengerucut pada satu figur utama.
Keempat, butuh superbase atau kelompok pendukung.
Di era dengan beragam pilihan aplikasi, publik memiliki kecenderungan untuk tidak loyal pada satu aplikasi. Sebagai contoh, untuk aplikasi belanja daring, para pelanggan akan memilih berdasarkan seberapa besar insentif, berupa diskon, yang diberikan. Prinsip yang sama dapat terjadi dengan partai digital. Karena itu, penting untuk tidak hanya membangun ikatan emosional baik para kader partai maupun publik sasaran, tapi juga membangun infrastruktur digital yang nyaman digunakan masyarakat.
Kelima, mengarah pada demokrasi plebisit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Konsep plebisit mirip seperti referendum, yakni publik terlibat dalam pengambilan keputusan dengan memberi sebuah pertanyaan dan memilih jawaban antara 'setuju' dan 'tidak setuju'. Sistem seperti ini memungkinkan aspirasi publik dapat tertampung dan jadi modal politik.
Bibit Partai Digital di Indonesia
Beberapa partai politik di negara Barat yang telah bertransformasi menjadi partai digital adalah Pirate Party dari Swedia, the Five Star Movement dari Italia, the France Insoumise dari Prancis, dan Momentum dari Inggris. Salah satu kemiripan dari partai-partai digital tersebut adalah anggota mereka rata-rata berasal dari kalangan anak muda. Mereka kebanyakan digital natives (tumbuh dengan kebiasaan mengakses teknologi digital), dengan rentang usia 18-34 tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, salah satu partai politik yang mulai menunjukkan filosofi digital adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pascapemilu 2019, PSI meluncurkan Aplikasi Solidaritas untuk memperkuat komunikasi politik mereka di ranah digital, terutama dalam bidang penerimaan laporan dan pengawasan kinerja anggota dewan terpilih PSI.
Aplikasi Solidaritas PSI menawarkan berbagai fitur yang memungkinkan masyarakat mengawasi dan memberikan masukan atas kerja-kerja legislasi, agenda kegiatan. Aplikasi ini juga memungkinkan publik menilai kinerja anggota dewan, mengakses dokumen draft Raperda (karena PSI hanya menempatkan wakilnya di parlemen daerah, belum sampai ke DPR), hingga memberi masukan. Ada juga serta fitur untuk menyerap aspirasi masyarakat dan menampung aduan publik yang berbasis sistem pelacakan.
Fitur-fitur tersebut memperlihatkan upaya PSI untuk melibatkan dan memberdayakan masyarakat dalam berpolitik. Masyarakat bukan lagi sebagai objek politik yang hanya diperebutkan suaranya setiap Pemilu.
Semangat PSI ini layak ditiru oleh partai politik lainnya, tentunya dengan penyesuaian dengan ideologi partai masing-masing.
Bila praktik partai digital seperti ini bisa diterapkan lebih luas dan menjadi hal yang normal, maka para politikus akan tertuntut untuk benar-benar bergerak sesuai aspirasi rakyat. Publik pun akan mudah mengawasi dan menilai tolak ukur kinerja para wakil rakyat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!