Ignatius Kardinal Suharyo : Gelorakan Terus Pengamalan Pancasila
📅 Sabtu, 07 Sep 2019, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisKalau perbedaan-perbedaan itu diperalat, ditunggangi untuk kepentingan-kepentingan lain, saya kira seperti itu jadinya. Kalau kita membicarakan tentang agama, semua mewartakan damai. Persoalan muncul ketika orang tidak paham iman, hanya merasa cukup beragama. Tidak sungguh beriman.
Masih ditambah lagi keadaan sosial atau kesenjangan sosial. Ketika negaranya menjadi aman, kesejahteraan sosial tumbuh. Kesejahteraan sosial itu bukan soal uang dan makan, tetapi hukum dijalankan, ekonomi tidak diperalat dengan macam-macam manipulasi. Itu kesejahteraan. Jika semua itu berjalan dengan baik maka inteloransi akan berkurang.
Berapa lama kita butuh waktu untuk meminimalisir intoleransi?
Waduh, susah menjawabnya. Kalau tadi kita memperhatikan unsur-unsur yang bisa berpengaruh pada semangat intoleransi, salah satunya kesejahteraan sosial. Itu butuh waktu lama. Kedua soal keyakinan. Kalau orang sudah terlanjur menjadi seorang yang radikal maka proses deradikalisasi itu susahnya bukan main. Tidak cukup diberi khotbah, karena mereka biasanya dicuci otaknya.
Jadi bagi saya, yang sangat menentukan adalah hukum. Kalau orang intoleran itu merusak, menggunakan kekerasan untuk kepentingannya dan itu merusak tatanan hidup bersama maka di situ hukum harus berlaku. Ini bukan masalah agama, tapi persoalan pelanggaran ruang publik.
Keuskupan Agung Jakarta empat tahun ini menggaungkan amalkan Pancasila, ini akan mempercepat dalam mengatasi intoleransi?
Ya pasti. Dalam Gereja Katolik ini sejarahnya sudah panjang. Pada tahun 2003, Konferensi Wali Gereja Indonesia tiga tahun berturut-turut, para uskup seluruh Indonesia itu belajar mengenai sila kelima Pancasila, Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Alasannya ada dua. Pertama, sudah sejak zaman reformasi, Pancasila itu dibiarkan, entah sengaja atau tidak sengaja. Itu fakta.
Kedua, sejak lama yang namanya kesenjanagan sosial, kesejahteraan sosial itu semakin lebar. Maka kami bicara mengenai sila kelima Pancasila, tiga tahun berturut-turut. Tetapi, gemanya tidak begitu kelihatan. Semakin lama intoleransi tidak berkurang, bahkan sebaliknya intoleransi semakin bertambah. Maka sejak tahun 2016, Keuskupan Agung Jakarta merasa yakin bahwa salah satu tanda bahwa orang Katolik itu mencintai Tanah Air, mengajak umat Katolik mengembangkan kelima sila Pancasila.
Sebelum ada BPIP, Keuskupan Agung Jakarta sudah mulai dengan ideologi Pancasila. Waktu berjumpa dengan Presiden Jokowi, yang berbicara mengenai rencana mendirikan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (sebelum BPIP), saya sudah bercerita bahwa Keuskupan Agung Jakarta sudah menggelorakan berideologi Pancasila.
Hasil evaluasi dari Keuskupan bagaimana, selama empat tahun terakhir?
Itu harus diteliti. Kami belum sampai ke situ (penelitian). Kalau misalnya melihat tanda-tanda, yang paling jelas adalah umat Katolik bisa menyanyikan lagu-lagu yang dikarang untuk ini yaitu Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat. Dari anak-anak sampai orang tua bisa menyanyikannya. Di sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, lagu-lagu nasional seperti Satu Nusa Satu Bangsa, Rayuan Pulau Kelapa itu sekarang menjadi ramai dinyanyikan. Itu tanda yang paling jelas.
Kedua, yang sangat menggembirakan adalah tahun yang lalu, Kita Bhinneka Kita Indonesia. Itu gerakan di tataran paroki sangat istimewa. Ada dua paroki yang sangat menonjol dalam hal ini yaitu di Tangerang dan Cikarang. Pastor parokinya dengan para kiai di situ itu sangat bersahabat. Romo datang ke tempat kiai. Kiai datang ke gereja tidak merasa ada ganjelan apa-apa. Saya beberapa kali diajak untuk sowan kepada kiai-kiai di sana. Saya datang ke sana pertama kali ketemu, suasananya sudah seperti seolah-olah sudah lama sekali kita kenal.
Bapa Uskup walau padat kegiatan tetap bugar, apa resepnya?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!