Ignatius Kardinal Suharyo : Gelorakan Terus Pengamalan Pancasila
📅 Sabtu, 07 Sep 2019, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Koran Jakarta/Wachyu AP
Pelantikan Mgr Suharyo menjadi kardinal akan diselenggarakan dalam consistorium (sidang para kardinal) pada 5 Oktober 2019 di Vatikan. Mgr Suharyo mengaku kaget saat ditunjuk Paus Fransiskus menjadi kardinal karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Untuk mengetahui soal pengangkatan kardinal baru dan pengamalan Pancasila di Tanah Air, wartawan Koran Jakarta, Yolanda Permata Putri Syahtanjung, Eko Nugroho, Aloysius Widiyatmaka, dan Marcellus Widiarto berkesempatan mewawancarai Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, di Wisma Keuskupan Agung Jakarta, Selasa (3/9). Berikut petikan selngkapnya.
Bagaimana Bapa Uskup memaknai keterpilihan sebagai kardinal ini?
Di dalam Gereja Katolik tugas/jabatan/tempat itu tidak dicari sendiri. Gampangnya, di dalam Gereja Katolik itu tidak ada jenjang karier yang bisa dicari sendiri. Semuanya penunjukan. Semua orang seperti kami memang sejak awal inginnya menyerahkan diri untuk pelayanan di dalam gereja.
Ketika 1 September 2019 itu, saya ditunjuk sebagai kardinal. Itu saya tidak diberi tahu. Pada Minggu itu dihubungi dari banyak nomer telepon, saya tidak angkat karena biasanya kalau tidak kenal nomornya, saya tidak angkat. Baru sekitar jam 18.00 WIB itu Nuncio, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, telepon saya, 'Anda ditunjuk oleh Paus, diangkat menjadi kardinal'. Ya begitu, tidak pernah ditanya, tahu-tahu ditunjuk sebagai kardinal.
Apakah Bapa Uskup terkejut dengan pemilihan ini?
Iya, pasti. Saya malah bingung. Bagi saya, penunjukan seperti ini kan tanggung jawabnya berat sekali. Kalau pekerjaan, saya tidak pernah merasa berat, karena bukan saya yang bekerja, pasti tim yang bekerja. Yang berat ini adalah tanggung jawab moralnya.
Saya selalu mengatakan sejak awal, jalan hidup saya selalu dibelok-belokkan. Yang saya rencanakan tidak pernah jadi. Dulu saya ingin menjadi pastor paroki, karena saya ingin melayani umat langsung. Belum satu tahun saya melayani paroki, pimpinan menyuruh saya belajar.
Belajar sudah jelas arahnya ke mana, harus mengajar. Saya menjadi dosen di Fakultas Teologi di Kentungan, Yogyakarta. Sejauh saya tahu, menjadi dosen itu seumur-umur ada di situ. Jadi saya pikir dulu, dunia saya sesempit Kentungan. Saya belajar di sana, sekolah, kemudian kembali ke sana. Di situ ada rumah untuk para romo tua, di depannya ada kuburan.
Tiba-tiba dibelokkan, pada 1997, saya ditunjuk menjadi uskup. Saya sudah merasa tenang di Jawa Tengah. Suasana Jawa Tengah itu nyaman bagi saya. Tiba-tiba dipindah ke sini (Jakarta). Sekarang ditunjuk sebagai kardinal. Moga-moga itu belokkan saya terakhir.
Tugas kardinal apa?
Tidak ada. Jadi di dalam Gereja Katolik itu organisasinya jelas. Pimpinan Gereja Katolik itu Paus. Di bawah Paus itu uskup. Uskup itu fungsional. Jadi, dia melayani teritori, seperti saya sekarang di Keuskupan Agung Jakarata. Jadi tanggung jawabnya uskup tidak ke siapa-siapa, langsung ke Paus.
Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) itu bukan di atas Keuskupan. KWI itu hanya fungsi koordinasi. Kalau setahun sekali para uskup berkumpul itu namanya Konferensi Wali Gereja Indonesia. Keputusan-keputusan secara hakiki tidak mengikat, tetapi kita mencari jalan bersama-sama.

Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!