Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Permintaan Green Loan Diperkirakan Meningkat Tahun 2026

31 Senin, 15 Des 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Permintaan Green Loan Diperkirakan Meningkat Tahun 2026 Permintaan Green Loan Diperkirakan Meningkat Tahun 2026 Doc: istimewa
Ket. Fabby Tumiwa Direktur Eksekutif IESR - Ini akan meningkatkan kebutuhan biaya modal untuk investasi baru dan untuk operasi perusahaan.

JAKARTA - Permintaan pembiayaan berkelanjutan atau green loan berpotensi meningkat pada 2026, seiring dengan meningkatnya kebutuhan dunia usaha untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan isu keberlanjutan dan target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Kepala Mandiri Institute Andre Simangunsong mengatakan meskipun kondisi global 2025 diwarnai oleh gejolak geopolitik, perang dagang, dan perang tarif ia mengatakan permintaan terhadap pembiayaan berbasis environmental, social, and governance (ESG), khususnya untuk proyek pembiayaan, tetap berada di level yang cukup besar.

“Dengan kondisi sekarang, demand untuk ESG financing yang project financing-nya juga masih cukup besar,” ujar Andre di sela acara Public and Business Leader Forum: 2026 Outlook & Challenges, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia memperkirakan dorongan terhadap pembiayaan berkelanjutan kembali menjadi prioritas pada 2026, yang dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran terhadap risiko iklim, terutama setelah berbagai bencana yang terjadi di tingkat nasional, regional, hingga global.

Kondisi tersebut mendorong dunia usaha untuk mulai mengakses dan menyelaraskan strategi bisnis dengan prinsip sustainability (berkelanjutan). Hal itu diperkuat dengan tekanan positif dari regulator, termasuk pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong perbankan untuk menerapkan Climate Risk Stress Testing (CRST).

“Dari sisi supply dan demand, ada kebutuhan yang semakin tinggi,” kata Andre.

Andre pada kesempatan itu memaparkan dua faktor utama yang mendorong perkembangan pembiayaan hijau, di antaranya, pertama berasal dari pemerintah yang dinilai sebagai penerbit terbesar obligasi berkelanjutan, termasuk obligasi hijau dan obligasi sosial.

Selain pemerintah, ia mengatakan sektor keuangan disebut sebagai sektor yang paling siap menjadi enabler pembiayaan berkelanjutan, yang mana sektor ini menjadi penerbit terbesar kedua setelah pemerintah sekaligus menjadi penyalur utama pembiayaan tersebut.

Andre menjelaskan, Mandiri Institute juga mengacu pada survei terhadap perusahaan tercatat atau listed companies di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mana hasil survei menunjukkan bahwa jenis pembiayaan berkelanjutan yang paling diminati oleh perusahaan adalah green loan.

Dia memperkirakan dalam tiga hingga lima tahun ke depan, permintaan terhadap proyek penurunan emisi dan peningkatan efisiensi energi akan terus meningkat, sehingga perbankan dinilai perlu bersiap untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kami melihat demand terhadap proyek untuk menurunkan emisi atau meningkatkan efisiensi energi ini meningkat,” ujar Andre.

Mandiri Institute telah mengukur tingkat kesiapan sektor usaha dalam penerapan ESG, yang mana berdasarkan survei terhadap sejumlah perusahaan lintas sektor, hampir seluruh sektor telah memiliki kesadaran terhadap isu ESG.

Turunkan Emisi GRC

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa yang diminta Tanggapannya mengatakan green loan berpotensi meningkat tahun depan seiring dengan kebutuhan dunia usaha untuk menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca lewat penurunan energi fossil, pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi energi dan proses bersih.

“Ini akan meningkatkan kebutuhan biaya modal untuk investasi baru dan untuk operasi perusahaan,”ungkap Fabby.

Fabby juga berpandangan agar bank-bank diwajibkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyalurkan pendanaan hijau sesuai dengan ketentuan POJK 51/2017 yang mewajibkan lembaga keuangan bank dan non-bank untuk menerapkan pendanaan berkelanjutan, dan kemudian diatur lebih lanjut dalam POJK mengenai taxonomi pendanaan berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
Advertisement
Comeback Dramatis! Amri/Nita Bangkit dari Ketertinggalan dan Lolos Semifinal Hylo Open

Comeback Dramatis! Amri/Nita Bangkit dari Ketertinggalan dan Lolos Semifinal Hylo Open

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.