Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Program 'Food Estate' Harus Berdaya Saing Tinggi

📅 Jumat, 22 Jul 2022, 08:44 WIB | Oleh: Tim Penulis
Program 'Food Estate' Harus Berdaya Saing Tinggi Doc: istimewa

JAKARTA - Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia melalui program food estate yang telah dijalankan oleh pemerintah beberapa tahun belakangan. Karena itu, pemerintah perlu serius menanganinya.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Edi Santosa, menyebut food estate akan menjaga ketahanan pangan secara nasional ataupun global. Karena itu, dia berharap program food estate memiliki daya saing tinggi.

" food estate harus dibangun dengan daya saing, sehingga nantinya mendukung cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia," katanya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis (21/7).

Pemerintah menetapkan wilayah food estate di dua provinsi yaitu Kalimantan Tengah, tepatnya Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, serta Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, pemerintah juga akan memperluas program tersebut ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, dan Papua.

Sebelumnya, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Yadi Sofyan Noor, menyatakan pembangunan food estate di Kalimantan Tengah bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kuat di dunia. Menurut dia, program yang dikembangkan Kementerian Pertanian tersebut sudah menunjukkan kemajuan hasil yang maksimal.

Yadi menyebut rata-rata penyusutan lahan di Indonesia mencapai 150.000 hektare per tahun. Sementara data cetak sawah di bawah 100.000 hektare, tepatnya 60.000 per tahun. Namun dengan adanya food estate, kata dia, pencetakan sawah bertumbuh lebih cepat dan lebih maksimal.

Empat Pilar

Sebelumnya, Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, memaparkan empat pilar yang bermanfaat untuk mendukung ketahanan pangan dan mewujudkan kawasan pangan food estate. "Kalau satu saja dari empat pilar tidak dipenuhi, maka (food estate) bisa gagal," kata Dwi Andreas.

Dia memaparkan pilar pertama adalah kesesuaian serta kelayakan tanah dan agroklimat wilayah food estate karena terkait dengan kesuburan tanah. Pilar kedua, tambah Andreas, adalah kesesuaian infrastruktur pertanian di wilayah sekitar untuk menunjang kebutuhan usaha tani.

Kemudian, pilar ketiga, yaitu kelayakan budi daya dan teknologi, terutama untuk memperkuat kualitas hasil tanam dan mengatasi persoalan hama. Selanjutnya, pilar keempat adalah kelayakan sosial-ekonomi, karena tingkat minat sumber daya manusia untuk mengelola lahan baru juga harus dipertimbangkan.

Sementara itu, berdasarkan sisi ekonomi, dia memaparkan lahan dinilai produktif bila mampu memenuhi produksi gabah minimal empat ton per hektare untuk jenis tanaman padi. "Perluasan lahan penting, tapi perlu biaya sangat besar supaya yang empat pilar tadi dipenuhi," ujar Dwi Andreas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
  • Diserbu Produk China Murah! Industri Plastik RI Nyaris Tumbang dari Hulu ke Hilir
    Artikel ini memberikan pencerahan yang sangat berimbang dan ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Nasional
Demam Bukan Selalu Flu! Ken...
Advertisement
Kemenhub : Penyesuaian Fuel Surcharge Bukan Kenaikan Tarif Dasar Tiket Pesawat

Kemenhub : Penyesuaian Fuel Surcharge Bukan Kenaikan Tarif Dasar Tiket Pesawat

05 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.