Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Musim Angin Timur, Ubur-Ubur Justru Dominasi Tangkapan Nelayan Cilacap.

📅 Jumat, 18 Sep 2026, 13:49 WIB | Oleh:
Musim Angin Timur, Ubur-Ubur Justru Dominasi Tangkapan Nelayan Cilacap. Doc: Antara Foto
Ket. Aktivitas pengepulan ubur-ubur hasil tangkapan nelayan di Cilacap, Jawa Tengah.

Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyebut ubur-ubur (sejenis binatang laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa) mendominasi hasil tangkapan nelayan selama musim angin timur yang berlangsung dalam dua bulan terakhir.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto di Cilacap, Jumat, mengatakan melimpahnya ubur-ubur mendorong nelayan kapal kecil beralih menangkap komoditas tersebut karena mudah diserap pengepul dan eksportir.

"Dengan adanya ubur-ubur, tangkapan nelayan meningkat. Sudah memasuki bulan kedua dan memang sedang mendominasi," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat aktivitas pelelangan ikan di sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) cenderung sepi karena nelayan dengan kapal berukuran di bawah 5 gros ton (GT) lebih memilih menangkap ubur-ubur.

Ia mengatakan ubur-ubur hasil tangkapan nelayan tersebut dijual ke pengepul dan selanjutnya dikirim ke eksportir yang berada di luar wilayah Cilacap.

Setelah melalui berbagai proses pengeringan, ubur-ubur tersebut dikirim ke eksportir di Jakarta untuk diekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia Timur seperti China dan Jepang guna diolah menjadi bahan makanan maupun kosmetik.

"Harga jual ubur-ubur di wilayah perkotaan Cilacap saat ini Rp800 per kilogram, sedangkan di wilayah Jetis mencapai Rp1.100 per kilogram, dan harganya relatif sama dengan kisaran harga dalam beberapa tahun terakhir," katanya.

Dalam sehari, kata dia, kapal fiber berukuran sekitar 5 GT yang melaut sejak pagi dapat melakukan hingga tiga kali perjalanan dengan hasil sekitar 1 ton ubur-ubur dalam setiap perjalanan.

Menurut dia, kapal fiber tersebut biasanya ditumpangi dua nelayan dan jarak tempuh untuk menangkap ubur-ubur tidak terlalu jauh.

“Daerah tangkapan ubur-ubur sekitar jalur 1 penangkapan atau berjarak sekitar 4 mil laut dari bibir pantai, sehingga kebutuhan bahan bakar minyak) untuk operasional kapal fiber tidak terlalu banyak,” katanya.

Indarto memperkirakan penangkapan ubur-ubur masih berlangsung sekitar dua bulan ke depan selama musim kemarau dan sebelum ada hujan.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo Cilacap Untung Jayanto mengatakan ubur-ubur yang ditangkap nelayan umumnya langsung dijual kepada pengepul sehingga tidak masuk dalam data produksi TPI yang dikelola KUDi.

"Banyak, tapi itu langsung ke pengepul, tidak terdata di koperasi," katanya.

Menurut dia, aktivitas pelelangan ikan saat ini hanya berjalan di TPI Tegalkatilayu dan TPI Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap karena aktivitas pelelangan di TPI Kemiren dialihkan ke Dermaga 3 PPS Cilacap.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Nilam Butuh Terobosan, ARC USK Dorong SRG Jadi Solusi Tata Niaga
    Penerapan SRG nilam sangat krusial bagi sektor manufaktur ...
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Daerah
Posyandu Banjar Perluas Lay...
Advertisement
Kapal Induk Garibaldi Berganti Nama Jadi KRI Sriwijaya, Sebelumnya KRI Gajah Mada

Kapal Induk Garibaldi Berganti Nama Jadi KRI Sriwijaya, Sebelumnya KRI Gajah Mada

18 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.