Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut

📅 Jumat, 18 Sep 2026, 03:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut Doc: ANTARA/FAUZAN

JAKARTA – Untuk dapat mengubah air laut menjadi tawar, harus menunggu selesai giant sea wall dulu. Usulan menawarkan air laut (desalinasi) untuk mengantisipasi kekeringan. Hal itu disampaikan Gubernur Jakarta Pramono Anung menanggapi usulan DPRD Jakarta dilaksanakan desalinasi.

“Untuk mengubah air laut menjadi tawar dan bisa digunakan, maka harus mulai dulu pembangunan Giant Sea Wall,” kata Pramono, Kamis. Menurut Pramono, jika Giant Sea Wall sudah dimulai, suplai air payau akan mencukupi untuk diproses menjadi air tawar dan dimanfaatkan untuk sehari-hari.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka suplai air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang Pemerintah Jakarta melakukan desalinasi,” ungkap Pramono.

Sebelumnya, Ketua DPRD Jakarta Suhud Alynudin mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Jakarta mulai mengantisipasi potensi kekurangan air bersih akibat kekeringan dengan mengolah air laut menjadi air bersih melalui teknologi desalinasi. “Di Kepulauan Seribu sudah ada desalinasi ya, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar. Saya kira itu juga harus sudah mulai dicoba dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan Jakarta ini kekurangan air bersih,” jelas Suhud.

Dia menilai potensi kekeringan perlu disikapi secara serius. Sebab, kondisi tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang cukup panjang dan berdampak pada masyarakat. Untuk itu, Suhud minta langkah antisipasi mulai disiapkan Pemerintah Provinsi Jakarta. Ini termasuk memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar Jakarta.

Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah di Jakarta. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Jakarta masuk kategori “Awas” kekeringan pada Dasarian II atau periode 11-20 September 2026.

Lima wilayah yang masuk status tersebut yakni Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Suhud berharap langkah tersebut tidak dilakukan ketika Jakarta sudah mengalami kekurangan air bersih, namun dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Ant/G-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Luar Negeri
Mengenaskan! Parade Kereta ...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.