Krisis Chip Global: Kenapa Daya Tahan Baterai dan Durability Kini Jadi Standar Utama Membeli Smartphone
Sabtu, 05 Sep 2026, 10:30 WIB | Oleh: Alfina Febriyana– Pada Q1 2026, harga DRAM global naik lebih dari 50% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan NAND Flash melonjak lebih dari 90% (data Counterpoint Memory Price Tracker).
– Pada Q2 2026, biaya memori tercatat naik hampir 300% dibanding tahun sebelumnya (data IDC).
Francisco Jeronimo, Vice President for Worldwide Client Devices, IDC, menggambarkan hal ini sebagai guncangan sedahsyat tsunami yang berasal dari rantai pasok memori.
“Kelangkaan memori, yang secara luas dianggap sebagai gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambah Ryan Reith, Group Vice President for Worldwide Client Devices, IDC.
Ia menilai kondisi ini akan menekan pasar sepanjang 2026, dan lama tidaknya kelangkaan itulah yang menentukan seberapa dalam pasar smartphone turun.
Seberapa cepat situasi memburuk terlihat dari revisi proyeksi. Di awal 2026, penurunan pengiriman global diperkirakan hanya 1%-5%. Pada Juni, IDC merevisinya menjadi 13,9%. Proyeksi terkini menempatkannya di 16,7%, ini penurunan tahunan paling tajam dalam sejarah industri smartphone.
Segmen Rp1,8 Juta–Rp3,5 Juta Paling Terpukul
Beban kenaikan biaya tidak dirasakan merata. Memori menyumbang 15%-20% dari total biaya komponen (BOM) ponsel kelas menengah, tapi hanya 10%-15% pada flagship. Artinya, makin murah sebuah ponsel, makin besar porsi biayanya yang terpukul kenaikan harga memori.
– Biaya komponen ponsel di bawah USD200 (sekitar Rp3,5 juta) naik 20%-30% sejak awal 2026 (data Counterpoint Research).
– Pada Q2 2026, memori menyumbang lebih dari 65% BOM di segmen entry-level — membuat bisnis di rentang harga ini sulit dipertahankan (data IDC).
– Segmen di bawah USD100 (sekitar Rp1,8 juta), yang mengapalkan sekitar 173 juta unit pada 2025, anjlok hampir 60% pada Q2 2026 (data IDC).
– Di sejumlah pasar berkembang, harga ponsel naik hingga 40%-50% (data IDC).
Pasar Indonesia Paling Terdampak
Volume penjualan di Indonesia masih ditopang segmen entry-level dan kelas menengah. Karena itu, pasar domestik lebih rentan dibanding pasar yang didominasi ponsel premium.
– Pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan pada Q1 2026, karena konsumen menunda ganti ponsel (data Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!