Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apindo: UU Ketenagakerjaan Jangan Jadi 'Derailers', Harus Tarik Investasi Agar Ekonomi Tumbuh 8%

📅 Rabu, 02 Sep 2026, 21:22 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Apindo: UU Ketenagakerjaan Jangan Jadi 'Derailers', Harus Tarik Investasi Agar Ekonomi Tumbuh 8% Doc: Antara
Ket. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam, menilai target waktu selesaiaya pembahasan RUU Ketenagakerjan bukan hal utama. Yang terpenting, kata dia, adalah isi UU tersebut benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi

JAKARTA — Pembahasan RUU Ketenagakerjaan ditargetkan rampung lebih cepat, yakni pertengahan Oktober 2026 dari rencana awal akhir Oktober. DPR dan pemerintah disebut menargetkan pengesahan dilakukan pada Oktober ini.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam, menilai target waktu bukan hal utama. Yang terpenting, kata dia, adalah isi UU tersebut benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Yang paling penting bagaimana Undang-Undang Ketenagakerjaan ini bisa menjadi prime mover terhadap ekonomi kita. Jangan sebaliknya, UU Ketenagakerjaan ini menjadi derailers yang menghalangi pertumbuhan ekonomi yang kita harapkan 8 persen," ujar Bob saat ditemui di sela doorstop, Senin (1/9).

Tolak Regulasi "Aneh-Aneh", Belajar dari ASEAN

Bob menekankan, untuk mencapai pertumbuhan 8 persen Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan potensi dalam negeri. Investasi asing wajib masuk. 

"Supaya investasi asing masuk kita harus buat undang-undang yang nggak aneh-aneh dibandingkan negara ASEAN. Kadang-kadang kan kita bikin polanya aneh-aneh. Dibandingkan negara ASEAN kita aneh sendiri. Ya siapa yang mau masuk kalau undang-undang kita aneh," katanya.

Karena itu, Apindo sepakat dengan DPR dan serikat pekerja untuk mempelajari regulasi ketenagakerjaan di negara-negara ASEAN agar UU yang dihasilkan bisa diterima semua pihak.

Usulan: UMR "Safety Net Plus" dan Penetapan Upah di Bipartit

Terkait pengupahan, Bob mengusulkan sebagian penetapan upah diserahkan ke internal perusahaan melalui mekanisme bipartit. 

"Perusahaan itu macam-macam. Ada yang bagus, ada yang kurang bagus. Kalau memang bagus, why not, silakan upahnya lebih baik lagi. Tapi yang kurang bagus jangan dipaksain. Karena ekonomi sekarang itu seperti huruf K. Ada yang naik, ada yang turun," jelas Bob.

Apindo mengusulkan skema UMR sebagai safety net plus dengan struktur dan skala upah ditetapkan di masing-masing perusahaan. "Yang paling tahu kondisi perusahaan itu manajemen dan serikat pekerja. Nggak bisa pihak lain di luar itu tiba-tiba ikut menetapkan," tegasnya.

Soal KHL, Bob menyebut tetap harus jadi acuan. Namun ia menyoroti kesenjangan upah antar daerah yang dinilai memicu masalah. "Fenomenanya sekarang di Jawa Barat banyak PHK, di Jawa Tengah justru susah cari tenaga kerja. Ternyata penyebabnya upah minimum yang berbeda. Ini jangan sampai makin jomplang," ujarnya.

Ia mencontohkan Vietnam yang menaikkan upah minimum 7,2% pada Januari 2026 dengan inflasi 3,3% dan pertumbuhan 8%. "Kalau pakai rumus kita naiknya udah 10 persen, tapi dia naiknya 7 persen," ucap Bob.

4 Isu Urgent: Pelatihan, Jamsos, Data, dan JR MK

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Megapolitan
Perubahan APBD Tahun Ini Di...
Megapolitan
Siap-siap Hadapi Bencana Hi...
Megapolitan
KPK Terus Coba Tuntaskan Ko...
Luar Negeri
20 Negara Dorong Standar Ke...
Luar Negeri
EBT Global Tumbuh Rekor Nam...
Advertisement
Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.