ITF Sunter Dihidupkan Lagi, DPRD DKI Ingatkan Jangan Bergantung pada Sampah
📅 Selasa, 01 Sep 2026, 16:55 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohMasyarakat dapat mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara hasil pengolahannya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian perkotaan. “Jadikan sampah sebagai sumber daya, bukan sekadar beban,” tutur Ade.
Ade juga meminta Pemprov DKI memastikan seluruh aspek tata kelola proyek ITF Sunter telah matang sebelum kembali masuk ke tahap investasi. Hal tersebut penting mengingat proyek tersebut memiliki sejarah panjang dan sebelumnya sempat mengalami persoalan hingga mangkrak sejak 2023.
Kini, proyek tersebut kembali ditawarkan kepada investor dengan nilai investasi sekitar Rp5,3 triliun. Ade berharap persoalan yang pernah terjadi tidak kembali terulang dalam pelaksanaan proyek berikutnya.
“Kita tidak ingin mengulangi persoalan yang sama,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Ade, sejumlah aspek harus diperjelas sejak awal sebelum proyek berjalan. Hal itu meliputi skema pembiayaan, teknologi yang digunakan, pengawasan lingkungan, tipping fee, pembagian tanggung jawab, hingga indikator keberhasilan proyek.
Dokumen investasi Pemprov DKI sebelumnya mencantumkan skema Build Operate Transfer (BOT) dengan masa kerja sama selama 25 tahun. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan 2.200 ton sampah per hari dengan sumber pendapatan berasal dari tipping fee dan penjualan listrik.
Dokumen tersebut juga mencantumkan penggunaan teknologi dengan standar emisi Euro 5. Menurut Ade, seluruh parameter tersebut perlu dikaji secara transparan agar proyek tidak hanya terlihat layak secara finansial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta.
Ade mendukung target Jakarta menuju zero dumping pada 2028. Namun, ia menilai target tersebut harus dicapai melalui kombinasi berbagai strategi dan tidak hanya mengandalkan fasilitas pengolahan sampah berskala besar.
“ITF kita dukung. Reduksi sampah juga harus diperkuat,” tandasnya.
Ia meminta program bank sampah, pengomposan, pengolahan sampah organik, pertanian perkotaan, pemilahan, serta edukasi masyarakat memperoleh dukungan yang memadai. Berbagai program tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa menuju fasilitas pengolahan.
Menurut Ade, keberhasilan sistem persampahan Jakarta tidak cukup diukur dari kapasitas sampah yang mampu dibakar atau diolah oleh fasilitas seperti ITF. Indikator yang lebih penting adalah seberapa banyak sampah yang berhasil dicegah dan dikurangi sejak dari sumber.
“Yang paling penting adalah seberapa banyak sampah yang kita kurangi dari sumbernya,” ujarnya.
Ade berharap ITF Sunter nantinya menjadi bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah Jakarta yang modern dan berkelanjutan. Dengan kombinasi pengurangan sampah dari hulu dan pengolahan di hilir, investasi besar tersebut diharapkan benar-benar mampu memperbaiki sistem persampahan Ibu Kota.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!