Amerika Serikat Perketat Tekanan Ekonomi terhadap Iran
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 02:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiWashington - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent membahas strategi Operation Economic Outcast untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan dan Ekonomi Nasional Bahrain Salman bin Khalifa Al Khalifa, Selasa (25/8).
Dalam pertemuan tersebut, Bessent menegaskan Iran tidak boleh dibiarkan mengancam perdagangan internasional atau menggunakan Selat Hormuz sebagai alat untuk menekan perekonomian global. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan tekanan finansial terhadap Iran secara berkelanjutan.
Kedua pejabat sepakat melanjutkan koordinasi antara AS, Bahrain, dan negara-negara Teluk untuk memerangi aliran dana ilegal sekaligus memperkuat keamanan ekonomi.
"Menlu Bessent juga menyambut baik kemitraan Bahrain yang telah berlangsung lama dan komitmen berkelanjutannya untuk menjaga integritas sistem keuangan internasional," kata Departemen Keuangan AS.
Sehari sebelumnya, Bessent mengumumkan sanksi baru AS yang menargetkan lima jalur utama pembiayaan luar negeri Iran, yakni aset digital, teknologi, perdagangan emas, penerbangan, dan transportasi maritim. AS juga menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal terkait Iran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Namun, AS belum menetapkan batas waktu penerapan sanksi baru maupun mengumumkan negara lain yang akan dikenai hukuman.
Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin mengatakan Teheran akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghadapi tekanan ekonomi Washington. Iran menilai dialog yang saling menghormati merupakan satu-satunya pilihan bagi AS untuk menyelesaikan konflik.
AS dan Israel mulai menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas dengan serangan Iran. Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, kedua pihak kembali saling menyerang tidak lama setelah kesepakatan tersebut. Konflik kemudian berlanjut tanpa permusuhan aktif, sementara Washington memilih meningkatkan tekanan ekonomi untuk mendorong penyelesaian konflik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyampaikan kepada negara-negara sekutu bahwa Washington saat ini tidak berencana melancarkan serangan militer baru terhadap Iran.
Rubio mengatakan pemerintah AS akan lebih fokus menggunakan instrumen tekanan lain terhadap Iran, termasuk pemberian sanksi. Perubahan strategi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mulai lebih mengandalkan tekanan ekonomi dan diplomasi dibandingkan opsi militer untuk mengakhiri konflik.
Harga Minyak Turun
Strategi baru Washington turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa setelah pelaku pasar menilai risiko serangan militer baru terhadap Iran mulai mereda.
Harga minyak turun lebih dari 3 persen, dengan minyak mentah Brent kembali berada di bawah 90 dollar AS per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak meningkat selama berminggu-minggu akibat kebuntuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!