Pertemuan 'Five Eyes' Fokus Bahas Keamanan AI
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 02:45 WIB | Oleh: Tim PenulisSYDNEY – Aliansi berbagi intelijen “Five Eyes” yang terdiri dari Inggris, Amerika Serikat (AS), Australia, Kanada, dan New Zealand pada Rabu (26/8) mengadakan pembicaraan di Sydney, Australia, yang fokus membahas isu tentang penggunaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk memerangi terorisme dan kejahatan terorganisir.
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengatakan bahwa percepatan besar dalam kemampuan untuk menimbulkan kerugian melalui kecerdasan buatan, mendominasi pembicaraan dengan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, Menteri Keamanan Publik Kanada, Gary Anandasangaree, dan Menteri Kepolisian New Zealand, Mark Mitchell.
“Aliansi Five Eyes membahas cara menggunakan AI di semua area ancaman berbeda yang kita hadapi seperti kontra-terorisme, pemberantasan penyelundupan narkoba, penanganan penipuan dan pusat penipuan, serta penanganan kejahatan terorganisir,” kata Burke kepada wartawan.
Pada kesempatan itu, para menteri dari Five Eyes berkesempatan menyaksikan demonstrasi drone udara dan laut yang menjadi andalan terbaru Australia dalam meningkatkan pengawasan pergerakan kapal di sepanjang pantai utara yang terpencil dan penuh tantangan.
Australia diketahui telah memperkenalkan kontrol perbatasan yang ketat dan kebijakan untuk menghentikan kedatangan kapal pencari suaka di garis pantainya yang luas sejak 25 tahun yang lalu, sebagai reaksi terhadap kebangkitan partai populis anti-imigrasi, One Nation.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan kebijakan tersebut, para pencari suaka yang tiba di Australia dengan perahu dideportasi ke pulau terpencil Nauru di Pasifik.
Seiring dengan kembali meningkatnya popularitas One Nation dalam jajak pendapat, pemerintah Australia berjanji untuk mengurangi tingkat migrasi.
Sebelumnya pada Juni lalu, aliansi Five Eyes telah mengeluarkan peringatan bahwa model kecerdasan buatan tercanggih berkembang cukup cepat sehingga mampu mengungguli pengetahuan keamanan siber yang ada dalam hitungan bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko yang ditimbulkan oleh peretasan yang didukung AI menjadi sorotan, setelah perusahaan rintisan AS, Anthropic, mengatakan pada April lalu bahwa model AI canggih mereka, Mythos, memiliki kemampuan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menemukan kerentanan perangkat lunak.
Oleh karena itu badan-badan keamanan dari negara aliansi Five Eyes mendesak pemerintah dan bisnis untuk bertindak cepat guna mempersiapkan diri seiring berkembangnya AI .
“Laju perkembangan AI mutakhir yang pesat berarti asumsi risiko siber dapat menjadi usang dalam hitungan bulan, bukan tahun,” demikian pernyataan bersama aliansi Five Eyes pada 22 Juni lalu.
AI menurunkan hambatan bagi pelaku kejahatan dan meningkatkan kecepatan serta kompleksitas serangan," kata penasihat Five Eyes. “Pelanggaran pasti akan terjadi. Kesiapsiagaan bisa membantu Anda mengatasinya dengan cepat dan mencegah eskalasi menjadi krisis operasional dan keuangan yang besar,” imbuh mereka.
Untuk meningkatkan pertahanan siber, aliansi harus mengintegrasikan alat AI ke dalam operasi keamanan mereka, memperbarui sistem lama, dan membatasi akses ke sistem penting, di antara langkah-langkah lainnya, kata mereka.
Ancaman Spionase
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!