Tanpa Pemerintah Bersih dan Kredibel, Potensi Besar Sumber Daya Alam Sulit Diakselerasi
📅 Rabu, 26 Agu 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiJadi yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu bisa membuat orang punya penghasilan lebih baik, pekerjaan yang aman, dan bisa menabung. Kalau mereka tidak punya kesempatan memperbaiki taraf hidup akan sulit merasa lebih makmur.
Tertinggal Jauh
Di waktu lain, peneliti Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi menilai, pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada model padat modal akan sulit menghadirkan kenaikan kemakmuran berkelanjutan.
Model itu tidak hanya minim penciptaan lapangan kerja berkualitas, tetapi juga berpotensi mengorbankan keberlanjutan ekosistem yang pada akhirnya menimbulkan biaya yang harus ditanggung masyarakat di masa depan.
Hal itu disampaikan saat mengomentari stagnasi Legatum Prosperity Index Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Hafidz menjelaskan, penilaian Legatum Prosperity Index terdiri dari tiga variabel penting: Development, Society, dan Freedom. Di dalamnya terdapat total 11 sub-penilaian yang dikomparasikan secara global.
Jika dilihat dari pergeseran ranking, posisi Indonesia sebenarnya cukup dinamis. Peringkat tertinggi justru dicapai pada 2022 di urutan 59. Namun, 3 tahun setelahnya Indonesia stagnan di peringkat 64.
Posisi Indonesia pun di negara-negara ASEAN juga jauh tertinggal. Singapura berada di peringkat 23 dan Malaysia di peringkat 46. Kesenjangan ini menunjukkan ada pekerjaan rumah besar dalam membangun kualitas pertumbuhan.
Karena itu ia menekankan pembangunan ke depan harus lebih berimbang. Demokrasi dan kebebasan sipil harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem tata kelola pembangunan. “PR penataan tata kelola pemerintahan yang berintegritas dan bebas dari korupsi harus menjadi prioritas utama, mengingat pemerintah adalah barometer kepercayaan dunia usaha untuk bisa terlibat dalam pembangunan sebuah negara,” tegas Hafidz.
Tanpa pemerintah yang bersih dan tata kelola yang kredibel, potensi besar sumber daya alam seperti sektor pertanian dan kelautan yang sekaligus menjadi hajat hidup mayoritas rakyat tidak akan dapat mengalami akselerasi.
“Alhasil kesejahteraan komunitas juga berpotensi stagnan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan padat modal. Sektor riil yang menyentuh langsung masyarakat harus jadi prioritas agar kemakmuran benar-benar dirasakan,” tutup Hafidz.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!