Hari Berenang Khusus Anak Kulit Hitam di Kolam Renang Berlin Batal setelah Diwarnai Polemik Rasial
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 00:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBERLIN — Rencana menghadirkan kegiatan berenang khusus bagi anak-anak kulit hitam di Berlin, Jerman, berakhir dengan pembatalan setelah memicu protes dari kelompok sayap kanan dan konservatif. Penyelenggara bahkan menerima sejumlah email serta ancaman bernada rasis setelah kegiatan tersebut menjadi sorotan.
Dari The Guardian, acara itu semula dirancang sebagai kegiatan rekreasi bagi anak-anak kulit hitam dan keluarga mereka. Volksbühne Berlin, teater yang menggagas kegiatan tersebut, menyiapkan sebuah kolam renang luar ruangan agar kelompok tersebut dapat menikmati fasilitas secara eksklusif selama satu sore.
Penyelenggara mengatakan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi sejumlah hambatan yang selama ini membuat sebagian anak dari komunitas kulit hitam enggan atau kesulitan mengakses fasilitas renang.
Namun, rencana tersebut mendapat kritik setelah informasi mengenai acara menyebar di media sosial. Sejumlah kelompok sayap kanan dan tokoh konservatif mempertanyakan alasan fasilitas publik digunakan secara khusus oleh satu kelompok ras.
Politisi lokal dari Partai Demokrat Kristen, Aileen Weibeler, mempertanyakan kebutuhan penyediaan ruang khusus tersebut. Sementara itu, Alice Weidel, salah satu pemimpin Alternative für Deutschland (AfD), menyebut rencana itu sebagai “apartheid” dan menilai kebijakan tersebut untuk sementara melarang warga kulit putih mengakses fasilitas yang sama.
Volksbühne Berlin kemudian membatalkan kegiatan tersebut setelah menghadapi tekanan dan ancaman.
Persoalan ini kembali membuka pembahasan mengenai hubungan antara kolam renang, akses olahraga air, dan diskriminasi rasial di sejumlah negara Eropa dan Amerika Utara.
Di Jerman, misalnya, sebuah danau renang terbuka di Halle menjadi sorotan pada awal musim panas setelah pengelola menolak pengunjung yang tidak dapat berbahasa Jerman.
Di Belanda, Institut Hak Asasi Manusia juga sebelumnya memutuskan sebuah kolam renang melakukan diskriminasi setelah seorang anak kulit hitam dipilih untuk menjalani pemeriksaan identitas.
Kasus serupa juga memiliki sejarah panjang. Pada 2013, kota Bremgarten di Swiss membatasi akses pencari suaka ke kolam renang. Di Bulgaria, komunitas Roma melaporkan adanya diskriminasi di fasilitas renang umum. Sementara itu, sebuah kolam renang di Rumania pada 2022 didenda lebih dari 2.000 euro setelah anak-anak Roma dilarang masuk.
Menurut Jeff Wiltse, penulis Contested Waters: A Social History of Swimming Pools in America, persoalan rasial di sekitar kolam renang berkaitan dengan sejarah panjang segregasi dan karakter kolam renang sebagai ruang yang sangat terbuka secara fisik dan sosial.
“Kolam renang adalah ruang yang intim secara visual, fisik, dan sosial, dan saya pikir hal itu terus memicu kecemasan sosial orang-orang,” kata Wiltse.
Di Amerika Serikat, kolam renang umum pernah menjadi salah satu ruang yang dipisahkan berdasarkan ras. Ketika proses integrasi mulai berlangsung pada pertengahan abad ke-20, sejumlah fasilitas renang pribadi kemudian berkembang di kawasan yang mayoritas dihuni warga kulit putih.
Warisan sejarah tersebut turut dikaitkan dengan kesenjangan kemampuan berenang berdasarkan kelompok ras. Di Amerika Serikat, penelitian menunjukkan angka kematian akibat tenggelam pada anak-anak kulit hitam dan Afrika-Amerika sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak kulit putih.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!