Melawan Api dan Patriarki: Emak-emak di Garis Depan Lahan Gambut Kalimantan
📅 Rabu, 16 Sep 2026, 12:17 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
PONTIANAK - Irma mengenakan sepatu bot karetnya yang berat saat ia bersiap untuk giliran kerja sukarela sebagai petugas pemadam kebakaran di desanya, Sungai Putri, di sisi Indonesia pulau Kalimantan.
Mengenakan perlengkapan keselamatan lengkap, dia menuju zona kebakaran dengan sepeda motornya, udara dipenuhi asap beracun.
Dari The Guardian, wanita berusia 39 tahun ini adalah anggota Power of Mama, tim pemadam kebakaran wanita pertama di Indonesia, yang dibentuk untuk melindungi salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini.
“Karena kami adalah ibu rumah tangga, kamilah yang paling merasakan dampaknya,” kata Irma tentang motivasinya untuk bergabung, “Saya merasa harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal ini.”
Kelompok ini terdiri dari 146 perempuan, berusia antara 10 dan 58 tahun, dari 10 desa di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Indonesia. Dibentuk pada tahun 2022 oleh sebuah LSM bernama YIARI, anggota kelompok ini menerima pelatihan yang ketat, mulai dari pemadam kebakaran hingga pengoperasian drone pengawasan, dan melakukan kegiatan penyuluhan masyarakat yang penting.
Pemandangan dari udara menunjukkan kebakaran yang terjadi di desa Sungai Putri.
Dari pukul 10 pagi hingga 4 sore, para sukarelawan kelompok tersebut berpatroli di daerah berisiko tinggi, mencatat lokasi, dan memberi tahu brigade kehutanan Manggala Agni, sebuah brigade khusus di bawah kementerian kehutanan, ketika mereka mengidentifikasi titik-titik rawan.
Mereka menyisir area perbatasan perkebunan dan hutan, mencatat koordinat, mengambil foto, dan memasukkan informasi tersebut ke dalam aplikasi pemantauan khusus.
Terkadang ini adalah pekerjaan yang melelahkan dalam kondisi yang sulit.
Namun, para anggota mengatakan bagian tersulit adalah meyakinkan orang-orang di komunitas mereka untuk tidak melakukan "tebang bakar," atau membersihkan lahan secara ilegal dengan membakarnya, praktik umum di Indonesia, dan cara yang murah dan efektif untuk membersihkan lahan untuk tanaman seperti kelapa sawit.
Itu, dan menghancurkan sistem patriarki di desa.
Irma mengatakan bahwa kelompok tersebut awalnya menghadapi kritik dari kaum pria, tetapi sekarang mereka bekerja sama erat dengan masyarakat.
“Para pria di desa sering menggoda kami: 'Apakah perempuan benar-benar berpatroli?'” kenang Irma, “'Mengapa perempuan harus berpatroli? Tidakkah kalian punya tugas lain yang harus dilakukan?'”
“Tantangan terbesar yang kita hadapi adalah bagaimana reaksi publik,” timpal Suriati, anggota Power of Mama lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!