Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Asean Mulai Kerepotan dengan Asap Eksporan Indonesia, tapi Rikuh

📅 Selasa, 25 Agu 2026, 06:30 WIB | Oleh:
Asean Mulai Kerepotan dengan Asap Eksporan Indonesia, tapi Rikuh Doc: ist
Ket. asap karhutla keluar negara

JAKARTA – Negara-negara Asean mulai kerepotan dengan asap hasil produksi hutan kebakaran Indonesia, seperti dilakukan Malaysia dan Brunei. Hanya mereka agak rikuk (tidak enak) untuk merespons keras. Mereka mengandalkan mekanisme yang dimiliki antarnegara Asean.

Pemanfaatan mekanisme tingkat ASEAN oleh negara-negara tetangga untuk merespons dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia adalah bentuk menghargai kedaulatan dan prinsip non-interferensi sesama negara anggota.

“Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan prinsip yang sudah melembaga, yakni saling menghargai prinsip kedaulatan, sehingga membuat sesama anggota ASEAN tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing,” kata pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah.

Mengenai keputusan pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam baru-baru ini untuk merespons persoalan karhutla RI melalui mekanisme ASEAN, Reza menyebut langkah tersebut dapat dimaklumi.

Akademisi di Universitas Padjadjaran itu berkata pemanfaatan mekanisme ASEAN dilakukan untuk menjaga harmoni antara negara anggota ASEAN. Ia menilai ada kekhawatiran jika pemanfaatan langkah di luar mekanisme tersebut justru dapat “ditafsirkan secara keliru oleh masyarakat di Indonesia”.

Mekanisme tingkat ASEAN tersebut juga dilakukan negara tetangga sebagai upaya meredakan tekanan dari masyarakat yang khawatir bahwa masalah kabut asap bisa berdampak pada ketahanan ekonomi dan masyarakat, kata dia.

Dengan itikad baik tersebut, Indonesia sudah sepantasnya mengoptimalkan langkah mengatasi karhutla berikut dampaknya ke negara tetangga serta meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di lingkup ASEAN.

Ia pun menilai pemanfaatan mekanisme ASEAN dalam mengatasi dampak karhutla menjadi momentum memformalkan suatu forum lingkungan hidup di tingkat kawasan.

Menurut akademisi itu, sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan serta mengingat posisinya sebagai negara terbesar di kawasan, Indonesia berada dalam posisi yang tepat untuk menginisiasi langkah tersebut.

“RI perlu merancang terbentuknya suatu dewan pemangku lingkungan hidup ASEAN yang diharapkan dapat membangun kesepahaman atas isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama seperti perubahan iklim dan kebakaran hutan,” ucap Reza.

Ia pun mengharapkan dewan lingkungan hidup ASEAN, apabila benar terwujud, kemudian dapat merumuskan deklarasi lingkungan hidup ASEAN yang dapat berkembang menjadi suatu dewan perwakilan ASEAN untuk bidang lingkungan hidup.

Di samping isu karhutla dan perubahan iklim, Reza menilai dewan lingkungan hidup ASEAN juga mesti berwenang mengatasi isu pembalakan lintas negara, polusi plastik lintas batas, dan transisi energi di tingkat kawasan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank
    Preview komentar:
    Ini sudah masuk kategori -menghalang-halangi penyampaian pendapat- atau ...
  • Kemenperin Ajak IKM Jadi Pemasok Industri Kendaraan Listrik Nasional
    Preview komentar:
    Langkah Kemenperin yang menjembatani kebutuhan OEM dengan kapasitas ...
  • Bukan Sekadar Hobi, Industri Modifikasi Otomotif jadi Bagian Ekraf, Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi
    Preview komentar:
    Langkah kolaboratif antara NMAA, IMI, dan pemerintah ini ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Olahraga
Liverpool Didesak Datangkan...

Liga Inggris, Fulham Tak Mampu Menyamai Chelsea

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Liga Inggris, Fulham Tak Ma...

Fiorentina Tanpa Ampun Dibantai AS Roma 0-4

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Fiorentina Tanpa Ampun Diba...
DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.