Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Surplus Beras 3,67 Juta Ton, Mengapa Harga di Daerah Terpencil Masih Mahal?

31 Selasa, 25 Agu 2026, 06:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Surplus Beras 3,67 Juta Ton, Mengapa Harga di Daerah Terpencil Masih Mahal? Surplus Beras 3,67 Juta Ton, Mengapa Harga di Daerah Terpencil Masih Mahal? Doc: Antara
Ket. Warga membawa paket sembako yang dibeli saat pasar murah di Desa Kandang, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (14/8).

Jakarta — Surplus produksi beras nasional belum otomatis menjamin seluruh masyarakat Indonesia dapat memperoleh beras dengan harga terjangkau. Persoalan distribusi, tingginya biaya logistik, hingga keterbatasan infrastruktur pangan masih membuat harga beras di sejumlah wilayah, khususnya kawasan terpencil dan Indonesia timur, jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata nasional.

Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai tingginya produksi dan cadangan beras pemerintah (CBP) harus diikuti dengan pemerataan akses hingga ke daerah terluar.

“Namun, faktanya harga di tingkat konsumen di wilayah terpencil masih bisa melonjak tajam,” kata Eliza di Jakarta, Senin (24/8).

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 31,10 juta ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Namun, angka surplus tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan. Eliza mencontohkan, ketika distribusi terganggu di sejumlah wilayah terpencil, harga beras di tingkat konsumen dapat melonjak hingga Rp25.000-Rp30.000 per kilogram.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang diakses pada Senin (24/8) juga menunjukkan adanya kesenjangan harga. Rata-rata harga beras kualitas medium I secara nasional tercatat sekitar Rp16.500 per kilogram.

Sementara itu, harga di sejumlah wilayah Indonesia timur lebih tinggi. Harga rata-rata beras medium I di Maluku mencapai Rp17.600 per kg, Maluku Utara Rp18.000 per kg, dan Papua Rp19.350 per kg.

Di Kabupaten Jayawijaya, harga bahkan mencapai Rp23.500 per kg, sedangkan di Kabupaten Mimika sekitar Rp19.500 per kg.

Menurut Eliza, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya produksi nasional. Ketersediaan beras harus diikuti dengan kemampuan masyarakat mengakses dan membeli komoditas tersebut dengan harga yang wajar.

“Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari aspek ketersediaan, tetapi juga akses, keterjangkauan harga, dan stabilitas pasokan,” ujarnya.

Ia menilai persoalan utama berada pada rantai distribusi antarpulau, biaya logistik yang tinggi, keterbatasan fasilitas penyimpanan di daerah, serta struktur pasar yang relatif terbatas di wilayah terpencil.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat sistem distribusi pangan secara lebih sistematis. Langkah yang dapat dilakukan antara lain menambah fasilitas penyimpanan di kabupaten terpencil, memperkuat operasi pasar secara rutin dan terukur, serta meningkatkan konektivitas antarpulau.

Di sisi lain, pemerintah telah melakukan intervensi melalui penyaluran CBP untuk menjaga pasokan dan mengendalikan harga.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat penyaluran CBP sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 1,65 juta ton, antara lain melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan percepatan penyaluran dilakukan untuk mengendalikan perkembangan harga beras, terutama di tengah tantangan El Nino pada puncak musim kemarau.

Operasi Pasar

Pengamat pertanian Khudori menilai pemerintah masih perlu memperkuat operasi pasar melalui program SPHP untuk menahan kenaikan harga beras yang berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut pada 2026.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
Advertisement
Comeback Dramatis! Amri/Nita Bangkit dari Ketertinggalan dan Lolos Semifinal Hylo Open

Comeback Dramatis! Amri/Nita Bangkit dari Ketertinggalan dan Lolos Semifinal Hylo Open

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.