Rupiah Masih Rentan - 24 Agustus 2026
📅 Senin, 24 Agu 2026, 09:30 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Rupiah berpotensi tetap volatil karena te kanan datang dari dua arah, yakni ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan geopolitik global, serta risiko domestik berupa pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan kenaikan inflasi pa ngan akibat cuaca kemarau ekstrem El Nino.
Kombinasi fak tor tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah pada perdagangan di hari kejepit nasional (harpitnas) seka ligus membuat ruang stabilisasi nilai tukar semakin terba tas.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar mencermati kondisi tenaga kerja AS sete lah klaim tunjangan pengangguran mingguan menurun, sementara The Fed tetap fokus pada pengendalian inflasi dan pasar memperdebatkan waktu perubahan suku bu nga berikutnya.
Dari sisi geopolitik, ketegangan Iran ma sih menjadi perhatian setelah kesepakatan damai berakhir pada pekan tersebut tanpa upaya dimulainya kembali pe rundingan.
Sementara dari dalam negeri, pelebaran CAD pada kuar tal II-2026 menjadi 12,5 miliar dollar AS atau 3,3 persen ter hadap PDB, naik tajam dari 3,6 miliar rupiah atau 1,0 persen terhadap PDB pada kuartal sebelumnya, menjadi salah satu tekanan bagi rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, risiko inflasi pangan akibat El Nino juga perlu diwaspadai.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terha dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (24/8), bergerak fluktuatif di kisaran 17.600 - 17.900 rupiah per dollar AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak menguat 54 poin atau 0,30 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.694 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Rupiah menguat setelah memperoleh du kungan dari keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mem pertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Ex change (ICDX) Muhammad Amru Syifa di Jakarta Dia menambahkan kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus mem berikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Melihat sentimen global, pergerakan rupiah masih dipe ngaruhi oleh arah dollar AS dan imbal hasil Treasury.
Dollar AS disebut sempat mengalami tekanan setelah Pemerintah AS mengumumkan peningkatan pembelian kembali obli gasi jangka panjang.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama ka rena imbal hasil Treasury kembali meningkat, sementara kekhawatiran mengenai inflasi dan kondisi fiskal AS masih menjadi perhatian investor.
“Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah suku bunga, sehingga prospek kebijakan moneter AS masih men jadi perhatian pasar,” ungkap Amru.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!