Perbaikan Subsidi harus Bersamaan dengan Percepatan Transisi ke Energi Terbarukan
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 00:55 WIB | Oleh: Tim RedaksiSubsidi Energi - Buruh Terpaksa Berutang, sehingga Kurangi Kemampuan Penuhi Kebutuhan Dasar
Agenda iklim jangan hanya mengejar target dekarbonisasi tanpa menghitung siapa yang menanggung dampaknya. Pemangkasan subsidi berpotensi memicu kelangkaan barang dan antrean panjang yang menguras waktu produktif buruh.
JAKARTA - Kapasitas ruang fiskal yang semakin terbatas karena adanya program prioritas dan unggulan, mendorong Pemerintah mengevaluasi kebijakan subsidi terutama subsidi energi yang menyedot ratusan triliun rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tiap tahun.
Proyeksi realisasi (outlook) anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 mencapai 227,26 triliun rupiah atau naik dari pagu awal sebesar 210,1 triliun rupiah.
Besarnya subsidi tersebut karena konsumsi BBM bersubsidi dan gas elpiji 3 kg sejak awal tahun meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu yang mendorong Pemerintah bakal mengupayakan agar penerima subsidi betulbetul tepat sasaran.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan pengurangan kuota subsidi bahan bakar minyak (BBM) tertentu pada 2027 karena Pemerintah bakal memberlakukan kebijakan pengendalian subsidi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Ferry Ardiyanto mengatakan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan penyaluran subsidi, termasuk subsidi untuk jenis BBM tertentu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi pertanyaan mengenai kuota BBM subsidi 2027 yang turun menjadi sekitar 20 juta kiloliter, Ferry mengatakan pengendalian subsidi menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga ketepatan sasaran penyaluran subsidi sekaligus mengelola beban fiskal.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan ruang fiskal yang semakin terbatas menempatkan Indonesia pada kondisi dilematis antara memilih mempertahankan subsidi dengan konsekwensi APBN akan terbebani atau menahan kebijakan subsidi energi.
“Jika dipertahankan akan membebani APBN, sementara memangkasnya berisiko menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah,” kata Telisa.
Mereka pun sepakat, perbaikan kebijakan subsidi harus dilakukan bersamaan dengan percepatan transisi ke energi terbarukan.
Telisa menilai transisi energi bukan hanya alat memangkas beban fiskal jangka pendek.
Ini adalah strategi jangka panjang untuk mewujudkan ketahanan energi yang berkeadilan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!