Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cetak Rekor Baru, 25 Ribu Orang Menari Dug Dug Der Semarangan secara Bersamaan

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 19:55 WIB | Oleh:
Cetak Rekor Baru, 25 Ribu Orang Menari Dug Dug Der Semarangan secara Bersamaan Doc: Antara foto/HO-Pemkot Semarang
Ket. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menerima penghargaan dari Leprid atas “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng ‘Dug Dug Der Semarangan’ diikuti Peserta Terbanyak", di Semarang, Minggu (9/8).

SEMARANG - Sekitar 25 ribu peserta dari berbagai unsur masyarakat mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semaranganmdi Lapangan Simpang Lima Semarang, Minggu, sekaligus mencatatkan rekor di Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).

Pemerintah Kota Semarang tercatat dalam rekor Leprid sebagai “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng ‘Dug Dug Der Semarangan’ diikuti Peserta Terbanyak".

Piagam penghargaan Leprid bernomor No. 1.037/LEPRID/VIII/2026 tersebut diserahkan langsung oleh Pendiri sekaligus Ketua Umum Leprid Paulus Pangka.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan penghargaan tersebut untuk seluruh masyarakat Kota Semarang.

“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang," katanya.

Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan kebersamaan seluruh warga Kota Semarang dalam merawat tradisi lokal.

"Ketika 25 ribu orang menari bersama, kita melihat ada kebersamaan, kegembiraan, dan rasa bangga menjadi bagian dari Kota Semarang," katanya.

Ia menilai Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi media untuk membawa tradisi lokal ke ruang publik, sekaligus mendekatkannya dengan generasi muda.

"Budaya harus hidup. Anak-anak muda harus mengenal, mempelajari, dan ikut mengekspresikannya. Kalau masyarakat ikut menari, budaya itu tidak disimpan sebagai sejarah semata, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," katanya.

Tari Dug Dug Der Semarangan, kata dia, memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Dugderan yang berkembang sejak abad ke-19.

Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der” sebagai penanda datangnya bulan Ramadhan.

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut lekat dengan ikon Warak Ngendog yang merepresentasikan akulturasi budaya di Kota Semarang.

Ia mengatakan bahwa nilai keberagaman yang hidup dalam tradisi tersebut perlu terus diterjemahkan melalui ekspresi seni yang dapat mengikuti perkembangan zaman.

"Kota Semarang dibangun dari keberagaman, sehingga budaya harus menjadi ruang yang menyatukan. Dug Dug Der diciptakan sebagai karya yang bisa dilakukan bersama, dinikmati bersama, dan menjadi kebanggaan bersama," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
Ekonomi
Peta Jalan Energi Nasional ...
Luar Negeri
Uganda Akhirnya Sukses Takl...
Luar Negeri
Tunisia Siap Turun Tangan R...
Advertisement
Kebakaran di Luar Area Bandara, Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta Dipastikan Tetap Normal

Kebakaran di Luar Area Bandara, Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta Dipastikan Tetap Normal

16 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.