Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ribuan Kapal Terjebak di Selat Hormuz Bisa Membawa Invasi Biologis ke Seluruh Samudra

📅 Kamis, 30 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:

Karena itu, para peneliti mendesak pemerintah dan perusahaan pelayaran untuk melakukan pemeriksaan serta pembersihan lambung kapal sebelum meninggalkan kawasan Teluk. Pelabuhan tujuan juga diminta meningkatkan pemantauan terhadap spesies invasif dan menyiapkan sistem respons cepat.

Tamburri mengibaratkan penanganan ancaman ini seperti pengendalian wabah penyakit menular.

"Deteksi dini sangat penting. Pencegahan sebelum organisme tersebut menyebar jauh lebih efektif. Dalam banyak hal, penanganannya mirip seperti menghadapi flu atau Covid-19. Kita harus siap, mendeteksi sejak awal, lalu segera mengambil tindakan," ujarnya.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga mengakui bahwa biofouling—penumpukan organisme pada lambung kapal—merupakan salah satu jalur utama penyebaran spesies akuatik invasif. IMO merekomendasikan seluruh operator kapal mengikuti pedoman pengelolaan biofouling dan kini tengah menyusun aturan internasional yang mengikat untuk meminimalkan perpindahan spesies invasif melalui kapal.

Tamburri memperingatkan bahwa jika tidak ditangani, berbagai ekosistem laut bernilai tinggi seperti terumbu karang, padang lamun, hingga kawasan budidaya tiram dapat mengalami kerusakan permanen.

"Sebagian habitat laut paling berharga di dunia bisa terdampak, bahkan mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan. Ini merupakan versi 'penyebar super' dari cara kapal-kapal telah menyebarkan spesies invasif selama puluhan tahun," katanya.

Meski menegaskan bahwa keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama dalam konflik, Tamburri mengingatkan agar dampak ekologisnya tidak diabaikan.

"Konflik seperti ini memang membawa penderitaan manusia. Namun kita juga tidak boleh melupakan konsekuensi lingkungan yang dapat berlangsung jauh lebih lama," tutupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

39 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.